*******
Part
3 “ Fighter class”
Setelah
ditentukan kelasnya, Gara berjalan mendekati Gedung sebelah barat di THS di
sana merupakan tempat khusus bagi kelas Fighter. Di perjalanan menuju kelasnya,
Gara merasa ada yang sedang memperhatikannya dan Gara berhenti sejenak untuk
melihat sekeliling tapi tidak ada sesuatu yang aneh semua orang beraktivitas
normal. Gara masih merasakan efek setelah test yang di lakukannya dengan menghiraukan
apa yang ia rasakan mengenai keadaan sekitar, Gara pun kembali menuju kelasnya.
Gara
memasuki kelasnya yang berada di bagian paling ujung gedung dan tempatnya
berada di lantai paling atas karena ia merupakan murid tingkat 3. Gara melihat
sekeliling kelasnya mencari bangku kosong dan ia mendapatkan targetnya, sebuah
bangku di pojok belakang kelas yang
bersebrangan dengan jendela merupakan tempat yang strategis bagi Gara, segera
saja ia mendekat dan duduk di bangku tersebut. Gara melihat keluar jendela dari
sini seluruh penjuru sekolahnya terlihat, memang tak salah ia memilih tempat.
“
Hai, Gue Khanza Shadiyya, lo bisa panggil gue Khanza ” seorang gadis cantik
dengan rambut hitamnya yang di ikat berbalik dari mejanya menghadap Gara sambil
menjulurkan tangan.
Gara
menoleh ke arah gadis tersebut sambil tersenyum ia menerima jabatan tangan
Khanza
“
Gara ”
“Gara
ya, mata lo bagus warnanya biru. Gue rasanya pernah ketemu sama lo, tapi dimana
ya?” Khanza bertanya pada dirinya
sendiri dan mulai berpikir.
Gara
tersentak dan ikut berpikir, mungkin Khanza mengenali Arvaro.
“
Ah gatau deh, perasaan gue aja kali” Khanza menyerah untuk mengingat apakah ia
pernah bertemu Gara atau tidak.
“Lo
cewek, kenapa masuk kelas fighter? Gak biasanya” Gara menghiraukan kicauan
Khanza dan malah bertanya padanya.
“Apa
salahnya cewek ikut bertarung?” khanza memeletkan lidahnya pada Gara dan
berbalik menatap ke depan.
Seorang
pria berwajah tegas memasuki ruangan, ia mengenakan pakaian tentara terlihat
otot-otot tangannya yang menonjol yang tak bisa di sembunyikan oleh bajunya
itu.
“
FIGHTER CLASS ”
ucap
pria tersebut lantang, semua murid di dalam ruangan duduk tegap seketika.
“
Yes, sir” Sekitar 20 siswa yang terdiri dari 18 laki-laki dan 2 perempuan itu
serentak menjawab.
“
saya brigadier jenderal Bagus Askara, akan menjadi pelatih kalian selama
setahun ke depan. Saya harap kelas ini menjadi kelas disiplin yang tangguh,
sekarang silahkan kalian isi terlebih dahulu data kalian pada Great- table atau
Greable dengan lengkap untuk informasi data sekolah” Brigjen Bagus berucap
dalam satu tarikan napas dengan lantang dan tegas, tidak mungkin tidak ada yang
paham dan mendengarnya di kelas ini.
“
Baik, sir”
Suasana
ruangan menjadi hening karena para siswa yang tengah fokus mengisi datanya pada
Greable. Gara menekan tombol power merah di sisi kanan mejanya dan muncul layar
di meja tersebut, segera saja gara menyentuh mejanya pada opsi pengiriman
informasi data dan mulai mengisi datanya
yang di perlukan seperti nama, tempat tinggal, dan lain-lain. Gara sudah
mahir menggunakan Greable karena ia pun memiliki programnya pada meja
belajarnya di rumah. Gara memang tidak gaptek pada tekhnologi bahkan tergolong
mahir . namun iya agak kurang saja dalam hal pengetahuan umum.
Setelah
mengisi data yang di perlukan pikiran Gara tak henti-hentinya memutar kejadian
setahun lalu mengenai kematian Arvaro. Gara terus memikirkan kenapa dan apa
yang harus ia lakukan selanjutnya
“
Berlari mengelilingi lapangan sebanyak 20 kali, segera laksanakan” Brigjen Bagus
memberikan instruksi kepada muridnya, setelah itu ia segera keluar dari kelas.
Para
murid yang belum selesai mengisi datanya terburu-buru mengisinya dan dengan
segera melaksanakan instruksi dari gurunya. Gara segera berdiri dan cepat
menuju ke lapangan sekolah yang kira-kira selebar stadium sepak bola itu,
Khanza mengikutinya dari belakang.
“ PRITTTT….”
Peluit
di tiup untuk memberikan tanda di mulainya pelatihan berlari. Gara dengan cepat
berlari sekuat yang ia bisa, sambil mengatur napasnya teratur. Teman-teman
sekelas Gara terlihat tenang melaksanakan kegiatan berlari mereka. setelah
melaksanakan 10 putaran dari yang perintahkan, Gara merasa jika dirinya sedang
di perhatikan sambil terus berlari ia melihat sekelilingnya, Gara melihat
seorang siswa berkacamata berwajah asia dan rambut klimis tengah menatapnya
dengan tatapan yang tidak bisa Gara artikan.
“
Siapa dia??” Gara bergumam karena penasaran dengan seseorang yang dilihatnya
itu.
“Kenapa
Gar?? ” Gara melihat khanza di sebelahnya berlari dengan napas terengah-engah.
Khanza memang paling lemah dalam hal berlari, ia lebih suka bertarung seharian
daripada di suruh berlari apalagi dalam 20 putaran. Khanza sangat kesulitan
dalam mengatur napasnya.
“
Ehh, gak ada apa-apa kok. Tadi ada kucing bunting lewat. ” Gara menjawab
seadanya karena menurutnya itu bukanlah hal yang penting. Dia pun kembali
menyelasaikan kegiatan berlarinya.
“Mana
ada kucing di THS, ngaco lo.” Khanza mencoba mendahului lari Gara dengan
tenaganya yang tersisa.
“Noh,
yang barusan ngomong.” Gara kembali mendahului Khanza
sambil nyengir kuda yang sekarang tertinggal jauh dibelakangnya.
sambil nyengir kuda yang sekarang tertinggal jauh dibelakangnya.
*******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar