Senin, 04 Maret 2019

Novel seru dan menarik *ARGARA*

Lanjut jangan?

*******



Part 3 “ Fighter class” 
 
Setelah ditentukan kelasnya, Gara berjalan mendekati Gedung sebelah barat di THS di sana merupakan tempat khusus bagi kelas Fighter. Di perjalanan menuju kelasnya, Gara merasa ada yang sedang memperhatikannya dan Gara berhenti sejenak untuk melihat sekeliling tapi tidak ada sesuatu yang aneh semua orang beraktivitas normal. Gara masih merasakan efek setelah test yang di lakukannya dengan menghiraukan apa yang ia rasakan mengenai keadaan sekitar, Gara pun kembali menuju kelasnya.
Gara memasuki kelasnya yang berada di bagian paling ujung gedung dan tempatnya berada di lantai paling atas karena ia merupakan murid tingkat 3. Gara melihat sekeliling kelasnya mencari bangku kosong dan ia mendapatkan targetnya, sebuah bangku di pojok belakang  kelas yang bersebrangan dengan jendela merupakan tempat yang strategis bagi Gara, segera saja ia mendekat dan duduk di bangku tersebut. Gara melihat keluar jendela dari sini seluruh penjuru sekolahnya terlihat, memang tak salah ia memilih tempat.
“ Hai, Gue Khanza Shadiyya, lo bisa panggil gue Khanza ” seorang gadis cantik dengan rambut hitamnya yang di ikat berbalik dari mejanya menghadap Gara sambil menjulurkan tangan.
Gara menoleh ke arah gadis tersebut sambil tersenyum ia menerima jabatan tangan Khanza 
“ Gara ”
“Gara ya, mata lo bagus warnanya biru. Gue rasanya pernah ketemu sama lo, tapi dimana ya?”  Khanza bertanya pada dirinya sendiri dan mulai berpikir.
Gara tersentak dan ikut berpikir, mungkin Khanza mengenali Arvaro.
“ Ah gatau deh, perasaan gue aja kali” Khanza menyerah untuk mengingat apakah ia pernah bertemu Gara atau tidak.
“Lo cewek, kenapa masuk kelas fighter? Gak biasanya” Gara menghiraukan kicauan Khanza dan malah bertanya padanya.
“Apa salahnya cewek ikut bertarung?” khanza memeletkan lidahnya pada Gara dan berbalik menatap ke depan.
Seorang pria berwajah tegas memasuki ruangan, ia mengenakan pakaian tentara terlihat otot-otot tangannya yang menonjol yang tak bisa di sembunyikan oleh bajunya itu.
“ FIGHTER CLASS ”
ucap pria tersebut lantang, semua murid di dalam ruangan duduk tegap seketika.
“ Yes, sir” Sekitar 20 siswa yang terdiri dari 18 laki-laki dan 2 perempuan itu serentak menjawab.
“ saya brigadier jenderal Bagus Askara, akan menjadi pelatih kalian selama setahun ke depan. Saya harap kelas ini menjadi kelas disiplin yang tangguh, sekarang silahkan kalian isi terlebih dahulu data kalian pada Great- table atau Greable dengan lengkap untuk informasi data sekolah” Brigjen Bagus berucap dalam satu tarikan napas dengan lantang dan tegas, tidak mungkin tidak ada yang paham dan mendengarnya di kelas ini.
“ Baik, sir”
Suasana ruangan menjadi hening karena para siswa yang tengah fokus mengisi datanya pada Greable. Gara menekan tombol power merah di sisi kanan mejanya dan muncul layar di meja tersebut, segera saja gara menyentuh mejanya pada opsi pengiriman informasi data dan mulai mengisi datanya  yang di perlukan seperti nama, tempat tinggal, dan lain-lain. Gara sudah mahir menggunakan Greable karena ia pun memiliki programnya pada meja belajarnya di rumah. Gara memang tidak gaptek pada tekhnologi bahkan tergolong mahir . namun iya agak kurang saja dalam hal pengetahuan umum.
Setelah mengisi data yang di perlukan pikiran Gara tak henti-hentinya memutar kejadian setahun lalu mengenai kematian Arvaro. Gara terus memikirkan kenapa dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya
“ Berlari mengelilingi lapangan sebanyak 20 kali, segera laksanakan” Brigjen Bagus memberikan instruksi kepada muridnya, setelah itu ia segera keluar dari kelas.
Para murid yang belum selesai mengisi datanya terburu-buru mengisinya dan dengan segera melaksanakan instruksi dari gurunya. Gara segera berdiri dan cepat menuju ke lapangan sekolah yang kira-kira selebar stadium sepak bola itu, Khanza mengikutinya dari belakang.
  “ PRITTTT….”
Peluit di tiup untuk memberikan tanda di mulainya pelatihan berlari. Gara dengan cepat berlari sekuat yang ia bisa, sambil mengatur napasnya teratur. Teman-teman sekelas Gara terlihat tenang melaksanakan kegiatan berlari mereka. setelah melaksanakan 10 putaran dari yang perintahkan, Gara merasa jika dirinya sedang di perhatikan sambil terus berlari ia melihat sekelilingnya, Gara melihat seorang siswa berkacamata berwajah asia dan rambut klimis tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Gara artikan.
“ Siapa dia??” Gara bergumam karena penasaran dengan seseorang yang dilihatnya itu.
“Kenapa Gar?? ” Gara melihat khanza di sebelahnya berlari dengan napas terengah-engah. Khanza memang paling lemah dalam hal berlari, ia lebih suka bertarung seharian daripada di suruh berlari apalagi dalam 20 putaran. Khanza sangat kesulitan dalam mengatur napasnya.
“ Ehh, gak ada apa-apa kok. Tadi ada kucing bunting lewat. ” Gara menjawab seadanya karena menurutnya itu bukanlah hal yang penting. Dia pun kembali menyelasaikan kegiatan berlarinya.
“Mana ada kucing di THS, ngaco lo.” Khanza mencoba mendahului lari Gara dengan tenaganya yang tersisa.
“Noh, yang barusan ngomong.” Gara kembali mendahului Khanza
sambil nyengir kuda yang sekarang tertinggal jauh dibelakangnya.

*******







Tidak ada komentar:

Posting Komentar