Senin, 04 Maret 2019

Novel seru dan menarik *ARGARA*

*******


Part 4 “ Catatan kecil ”
 
Selasa, 13 juli 3047
Gara menaruh blue speedboard di dalam lokernya, hari ini gara mengenakan baju seragamnya yang berwarna merah dengan logo api di dada kirinya sesuai cirri khas dari kelasnya dan celana jeans hitam. Masing-masing kelas memang memiliki logo dan warna seragam yang berbeda-beda, biru untuk Electro and science, hijau untuk sosial community, dan putih untuk medician. Di awal tahun 3000-an pemerintah memang mewajibkan sekolah-sekolah dengan pembagian kelas khusus tersebut dan pelajaran umum justru jadi kurang di prioritaskan, dengan jadwal 3 hari pelajaran khusus seperti fighter,medician dan lainnya, 2 hari untuk pelajaran umum. Gara berpikir jika itu hanya membuat rakyat bodoh tapi apa boleh buat semakin banyak peperangan dan penjajahan antar negara, jadi negara dalam status waspada dan selalu mempersiapkan segala hal sebelum terjadi.
Gara berjalan santai menuju kelasnya, karena ia bangun tidur terlalu pagi karena di siram air es oleh ibunya. Ibunya memang kejam tapi melihatnya sekarang lebih baik Gara jadi ikut bahagia.
“ Hai Gar” Khanza menyambut Gara yang baru saja akan duduk di bangkunya.
“ ya ” Gara menjawab seadanya, rasanya ia ingin tidur saja.
Khanza kesal karena jawaban gara yang singkat,padat dan jelas. Ketika Khanza akan berbicara lagi dia melihat Gara yang menempelkan kepala pada mejanya dan mencoba tertidur,  jadi Khanza mengurungkan niatnya.
“ Pagi, fighter!” 
Brigjen Bagus memasuki ruangan kelas, seketika Gara dan semua murid duduk dengan tegak.
“ Pagi, sir”
“ Sesuai dengan nama kelasnya hari ini kalian akan bertarung dan yang menjadi lawannya adalah teman kalian sendiri, jadi persiapkan diri kalian.”
Brigjen Bagus menekan layar pada greable dan seketika ruangan kelas berubah menjadi ruangan bertarung dengan sebuah lingkaran besar di tengah ruangan.
“ SEMUA BERKUMPUL CEPAT”
Semua murid yang tadinya hanya berdiri di tempat masing-masing segera mengelilingi lingkaran besar tersebut.
Brigjen Bagus berdiri di tengah lingkaran. Dia memanggil Steven untuk ikut masuk di dalam lingkaran. “ Tombak!”, seketika alat tersebut keluar dari lingkaran dekat dengan tempat berdirinya.
Brigjen melesatkan tombak tersebut ke arah Steven, bagian perutnya mengeluarkan banyak darah dan Steven kesakitan hingga nyaris pingsan. Brigjen mengeluarkan steven dari lingkaran dan tubuh Steven mendadak baik-baik saja seperti sedia kala.
“ Kalian mengerti bukan? Kalian akan bertarung dengan senjata yang kalian kuasai masing-masing di lingkaran ini, kalian tenang saja jika kalian terbunuh di dalam lingkaran ini, itu tidak akan berefek apa-apa pada tubuh kalian setelah keluar dari lingkaran.” Brigjen menjelaskannya secara rinci, Gara terpukau akan hal tersebut di sekolahnya yang dulu tidak ada hal semacam ini jika kalian terluka saat pelatihan bertarung kalian akan kesakitan, tapi disini? memang di sini tekhnologi sudah sangat maju di bandingkan sekolah yang lain.
“ EDWARD dan GARA! silahkan bertarung di lingkaran ini yang lainnya, perhatikan dahulu.” Gara agak tersentak dirinya yang harus pertama bertarung ia memasuki lingkaran tersebut. Di sisi lain lingkaran ia melihat Edward, seorang pemuda tinggi sepantar dengan Gara, matanya berwarna coklat terang dengan rambut hitamnya tengah di dalam lingkaran.
“ Ready! mulai” Brigjen memberikan intruksi untuk segera memulai pertarungan.
“ Smart- sword!”Gara melihat Edward memunculkan senjatanya di dalam lingkaran, sebuah pedang yang dapat berubah-ubah sesuai kehendak pemiliknya hampir sama dengan smart-gun , pedang ini dapat mengecil,membesar, sangat tajam,sangat tumpul bahkan beracun.
“Ini akan cepat!”
 Edward berlari sambil menghunuskan pedangnya yang telah berbentuk runcing berukuran sedang menuju Gara yang masih terdiam. Dia menghunuskan pedangnya dengan target jantung Gara. Gara segera menghindar kesamping sambil berguling, menahan pedang Edwar dengan tangannya.
“ ARRGGHHH”
Tangan Gara melepuh bahkan sekarang tak terbentuk, tercium bau aroma gosong di tangannya, sepertinya pedang itu telah di stel dengan mode api hingga tangan Gara bisa gosong seperti ini.
“Smart-gun!” senjata Gara keluar dari lingkaran, tangan Gara yang satunya segera menggenggam benda tersebut erat.
“Smart-gun? Keren juga senjata lo, ini bakal jadi lebih asyik” Edward menyeringai menatap gara yang masih menahan sakit di tangannya. Ia melesat ke arah Gara, tanpa sempat menghindar Gara tertusuk telak di bagian perut kirinya. Gara merunduk menahan sakit yang ia rasa, Gara tak paham semua tekhnologi di sekolah ini begitu nyata baginya. Edward kembali mendekati Gara, kali ini dengan perlahan karena merasa telah menang. Dia mencoba  melakukan serangannya kembali.
“Dorrr….” Gara menyetel smart-gun nya diam-diam pada mode “eagle eye” dengan mode ini dia bisa menembak dari jarak jauh. Dan usahanya berhasil ia mengenai pelipis kiri Edward  yang sekarang sedang berdarah, Gara kembali berdiri sambil menahan sakitnya. Edward memegangi pelipisnya sesaat, mukanya terlihat kesal dan ia berlari cepat menuju Gara yang tengah berdiri.
“Dorrr….”  “SREETT…” Gara melepaskan pelurunya tepat pada jantung Edward, Gara telah menyetel ulang smart-gun nya pada mode dengan berukuran kecil dan peluru yang beracun. Namun Gara juga tertusuk oleh pedang Edward tepat pada dada kirinya. Mereka  tak sadarkan diri sekarang.
Gara dan Edward telah berada di luar lingkaran, tubuh mereka pulih tanpa luka sedikitpun. Mereka di baringkan di sisi pojok kanan kelas untuk beristirahat.
 “ Gara dan Edward silahkan beristirahat, yang lainnya silahkan berpasangan masing-masing untuk bertarung. Lingkaran ini akan distel diperbanyak ” Brigjen menginstruksi kepada  semua muridnya, dan berdiri di hadapan kelas memperhatikan semuanya.
“ lo, lumayan juga. Tadi gue tarung gak serius jadi gue ngalah, gue tunggu lo di pertarungan berikutnya” Edward berbicara di sebelah Gara lalu pergi meninggalkannya tanpa memberi  kesempatan Gara membalas ucapannya. Gara bersandar pada kursi melihat teman-temannya yang lain tengah bertarung, ia melihat Khanza bertarung dengan teman perempuannya, memang hanya mereka berdua perempuan di kelas Gara. Khanza memakai senjata panah“ e-bow ”dan temannya  itu menggunakan G-boomeerang.
Sebenarnya tadi ketika bertarung Gara melihat kelemahan dari Edward, yaitu dia hanya bisa menyerang dalam jarak yang dekat. Dengan senjata smart-gun sebenarnya bisa saja Gara unggul, namun entah kenapa dia hanya kebingungan dengan alat-alat yang begitu canggih di sekolah ini.
Gara menghela napas bersandar pada kursi sambil merogoh saku celananya, namun dia menemukan sebuah kertas kecil. Awalnya kertas itu kosong namun perlahan muncul sebuah tulisan.
“ Apa lo udah tau siapa lo sebenarnya?? Temui gue di tembok belakang sekolah Besok pagi. ”   
Setelah membaca tulisan tersebut, kertas yang di pegang Gara itu mendadak terbakar menjadi abu dan tak meninggalkan sisa.
“ Apa maksudnya? Sebuah catatan? Lagi?” Gara tak mengerti dan dia kembali melanjutkan pembelajarannya.
 

*******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar