*******
Part
4 “ Catatan kecil ”
Selasa,
13 juli 3047
Gara
menaruh blue speedboard di dalam lokernya, hari ini gara mengenakan baju
seragamnya yang berwarna merah dengan logo api di dada kirinya sesuai cirri
khas dari kelasnya dan celana jeans hitam. Masing-masing kelas memang memiliki
logo dan warna seragam yang berbeda-beda, biru untuk Electro and science, hijau
untuk sosial community, dan putih untuk medician. Di awal tahun 3000-an
pemerintah memang mewajibkan sekolah-sekolah dengan pembagian kelas khusus
tersebut dan pelajaran umum justru jadi kurang di prioritaskan, dengan jadwal 3
hari pelajaran khusus seperti fighter,medician dan lainnya, 2 hari untuk
pelajaran umum. Gara berpikir jika itu hanya membuat rakyat bodoh tapi apa
boleh buat semakin banyak peperangan dan penjajahan antar negara, jadi negara dalam
status waspada dan selalu mempersiapkan segala hal sebelum terjadi.
Gara
berjalan santai menuju kelasnya, karena ia bangun tidur terlalu pagi karena di
siram air es oleh ibunya. Ibunya memang kejam tapi melihatnya sekarang lebih
baik Gara jadi ikut bahagia.
“
Hai Gar” Khanza menyambut Gara yang baru saja akan duduk di bangkunya.
“
ya ” Gara menjawab seadanya, rasanya ia ingin tidur saja.
Khanza
kesal karena jawaban gara yang singkat,padat dan jelas. Ketika Khanza akan
berbicara lagi dia melihat Gara yang menempelkan kepala pada mejanya dan
mencoba tertidur, jadi Khanza
mengurungkan niatnya.
“
Pagi, fighter!”
Brigjen
Bagus memasuki ruangan kelas, seketika Gara dan semua murid duduk dengan tegak.
“
Pagi, sir”
“
Sesuai dengan nama kelasnya hari ini kalian akan bertarung dan yang menjadi
lawannya adalah teman kalian sendiri, jadi persiapkan diri kalian.”
Brigjen
Bagus menekan layar pada greable dan seketika ruangan kelas berubah menjadi
ruangan bertarung dengan sebuah lingkaran besar di tengah ruangan.
“
SEMUA BERKUMPUL CEPAT”
Semua
murid yang tadinya hanya berdiri di tempat masing-masing segera mengelilingi
lingkaran besar tersebut.
Brigjen
Bagus berdiri di tengah lingkaran. Dia memanggil Steven untuk ikut masuk di
dalam lingkaran. “ Tombak!”, seketika alat tersebut keluar dari lingkaran dekat
dengan tempat berdirinya.
Brigjen
melesatkan tombak tersebut ke arah Steven, bagian perutnya mengeluarkan banyak
darah dan Steven kesakitan hingga nyaris pingsan. Brigjen mengeluarkan steven
dari lingkaran dan tubuh Steven mendadak baik-baik saja seperti sedia kala.
“
Kalian mengerti bukan? Kalian akan bertarung dengan senjata yang kalian kuasai
masing-masing di lingkaran ini, kalian tenang saja jika kalian terbunuh di
dalam lingkaran ini, itu tidak akan berefek apa-apa pada tubuh kalian setelah
keluar dari lingkaran.” Brigjen menjelaskannya secara rinci, Gara terpukau akan
hal tersebut di sekolahnya yang dulu tidak ada hal semacam ini jika kalian
terluka saat pelatihan bertarung kalian akan kesakitan, tapi disini? memang di
sini tekhnologi sudah sangat maju di bandingkan sekolah yang lain.
“
EDWARD dan GARA! silahkan bertarung di lingkaran ini yang lainnya, perhatikan
dahulu.” Gara agak tersentak dirinya yang harus pertama bertarung ia memasuki
lingkaran tersebut. Di sisi lain lingkaran ia melihat Edward, seorang pemuda
tinggi sepantar dengan Gara, matanya berwarna coklat terang dengan rambut
hitamnya tengah di dalam lingkaran.
“
Ready! mulai” Brigjen memberikan intruksi untuk segera memulai pertarungan.
“ Smart- sword!”Gara
melihat Edward memunculkan senjatanya di dalam lingkaran, sebuah pedang yang
dapat berubah-ubah sesuai kehendak pemiliknya hampir sama dengan smart-gun
, pedang ini dapat mengecil,membesar,
sangat tajam,sangat tumpul bahkan beracun.
“Ini akan cepat!”
Edward berlari sambil menghunuskan pedangnya
yang telah berbentuk runcing berukuran sedang menuju Gara yang masih terdiam.
Dia menghunuskan pedangnya dengan target jantung Gara. Gara segera menghindar
kesamping sambil berguling, menahan pedang Edwar dengan tangannya.
“ ARRGGHHH”
Tangan Gara melepuh
bahkan sekarang tak terbentuk, tercium bau aroma gosong di tangannya,
sepertinya pedang itu telah di stel dengan mode api hingga tangan Gara bisa
gosong seperti ini.
“Smart-gun!” senjata
Gara keluar dari lingkaran, tangan Gara yang satunya segera menggenggam benda
tersebut erat.
“Smart-gun? Keren juga
senjata lo, ini bakal jadi lebih asyik” Edward menyeringai menatap gara yang
masih menahan sakit di tangannya. Ia melesat ke arah Gara, tanpa sempat
menghindar Gara tertusuk telak di bagian perut kirinya. Gara merunduk menahan
sakit yang ia rasa, Gara tak paham semua tekhnologi di sekolah ini begitu nyata
baginya. Edward kembali mendekati Gara, kali ini dengan perlahan karena merasa
telah menang. Dia mencoba melakukan
serangannya kembali.
“Dorrr….” Gara menyetel
smart-gun nya diam-diam pada mode “eagle eye” dengan mode ini dia bisa menembak
dari jarak jauh. Dan usahanya berhasil ia mengenai pelipis kiri Edward yang sekarang sedang berdarah, Gara kembali
berdiri sambil menahan sakitnya. Edward memegangi pelipisnya sesaat, mukanya
terlihat kesal dan ia berlari cepat menuju Gara yang tengah berdiri.
“Dorrr….” “SREETT…” Gara melepaskan pelurunya tepat
pada jantung Edward, Gara telah menyetel ulang smart-gun nya pada mode dengan
berukuran kecil dan peluru yang beracun. Namun Gara juga tertusuk oleh pedang
Edward tepat pada dada kirinya. Mereka
tak sadarkan diri sekarang.
Gara
dan Edward telah berada di luar lingkaran, tubuh mereka pulih tanpa luka
sedikitpun. Mereka di baringkan di sisi pojok kanan kelas untuk beristirahat.
“ Gara dan Edward silahkan beristirahat, yang
lainnya silahkan berpasangan masing-masing untuk bertarung. Lingkaran ini akan
distel diperbanyak ” Brigjen menginstruksi kepada semua muridnya, dan berdiri di hadapan kelas
memperhatikan semuanya.
“
lo, lumayan juga. Tadi gue tarung gak serius jadi gue ngalah, gue tunggu lo di
pertarungan berikutnya” Edward
berbicara di sebelah Gara lalu pergi meninggalkannya tanpa memberi kesempatan Gara membalas ucapannya. Gara
bersandar pada kursi melihat teman-temannya yang lain tengah bertarung, ia
melihat Khanza bertarung dengan teman perempuannya, memang hanya mereka berdua
perempuan di kelas Gara. Khanza memakai senjata panah“ e-bow ”dan temannya itu menggunakan G-boomeerang.
Sebenarnya
tadi ketika bertarung Gara melihat kelemahan dari Edward, yaitu dia hanya bisa
menyerang dalam jarak yang dekat. Dengan senjata smart-gun sebenarnya bisa saja
Gara unggul, namun entah kenapa dia hanya kebingungan dengan alat-alat yang
begitu canggih di sekolah ini.
Gara
menghela napas bersandar pada kursi sambil merogoh saku celananya, namun dia
menemukan sebuah kertas kecil. Awalnya kertas itu kosong namun perlahan muncul
sebuah tulisan.
“ Apa lo udah tau siapa
lo sebenarnya?? Temui gue di tembok belakang sekolah Besok pagi. ”
Setelah
membaca tulisan tersebut, kertas yang di pegang Gara itu mendadak terbakar
menjadi abu dan tak meninggalkan sisa.
“
Apa maksudnya? Sebuah catatan? Lagi?” Gara tak mengerti dan dia kembali
melanjutkan pembelajarannya.
*******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar