Hai kawan? Saya kembali lagi menuju peradaban dengan mengeluarkan cerpen nih, yuk langsung disimak yaa baik-baik!
Menggenggam
Bintang
Liburan
akhir semester telah usai, Pagi hari langit Aceh begitu memanjakan sang indra
penglihatan. Tania telah siap memulai semester dua di tahun terakhirnya sebagai
murid kelas 12 IPA 3. Tania sangat bersemangat saking semangatnya ia bahkan
datang ke kelasnya paling awal di pagi hari.
Hari
pertama pelajaran belum di mulai, semuanya tampak santai. Wali kelas 12 IPA 3
yaitu Pak Yanto masuk ke kelas lalu memulai obrolan santai dengan para muridnya.
“
Bagaimana liburan kalian anak-anak? ” Tanya Pak Yanto kepada muridnya.
“
Seru pak, tapi kurang puas liburannya.” Jawab asal salah satu murid.
“
Seharusnya kalian itu lebih giat belajar, apa kalian tidak merasakan jika
kalian di SMA itu hanya beberapa bulan lagi. Kalian dari sekarang harus mulai
menentukan jurusan dan PTN mana yang akan kalian pilih untuk kedepannya. Coba
bapak Tanya dan mendata kalian mengenai PTN yang akan kalian pilih dan apa yang
kalian rencanakan kedepannya.”
Pak
Yanto bertanya kepada muridnya satu-persatu akan rencana mereka kedepannya,
mereka menjawabnya dengan antusias akan keinginan mereka melanjutkan kuliah.
Tania menundukkan kepalanya dalam dengan alur muka yang sendu, ketika
gilirannya di Tanya ia mengangkat kepalanya mantap dan dengan percaya diri
menjawab.
“
Tania akan menjadi Dokter pofesional pak, Tania akan mengambil jurusan Kedokteran di UNPAD.”
Semua
murid di kelas Tania tertawa meremehkan jawabannya, mereka mencemooh Tania.
“
Hahaha, udah anak orang miskin, gak pinter-pinter amat, tinggi amat bu
menghayalnya? ” Terdengar jelas di telinga Tania salah satu cemoohan dari
temannya itu.
“
Setidaknya Tania masih memiliki sopan santun dan sikap yang lebih baik daripada
kalian anak orang kaya yang sombong dan tidak tau apa yang namanya budi pekerti
yang baik.” Setelah berkata demikian Tania secara sopan meminta izin
kepada gurunya untuk ke kamar kecil. Di
sekolahnya memang sangat terasa adanya sistem kasta antara si kaya dan si
miskin, para murid secara lihai dapat menutupinya agar tidak diketahui para
guru. Pak Yanto segera menegur teman-teman sekelas Tania setelah Tania secara
terburu-buru pergi meninggalkan ruang kelasnya.
Di
salah satu bilik kamar mandi Tania menahan tangisannya hingga hidungnya menjadi
memerah, Tania mengusap hidungnya perlahan tidak ingin mengeluarkan air matanya.
Apakah salah Tania memiliki mimpi walaupun ia dari keluarga yang miskin?, dan
apa tidak boleh orang yang biasa-biasa saja memiliki sebuah mimpi?, bukankah
mimpi itu boleh dimiliki oleh setiap orang? Itu yang Tania pikirkan saat berada
di kamar mandi menyendiri. Setelah merasa lebih tenang Tania merapikan sedikit
raut mukanya dan kembali ke kelas dan dia rasa Pak Yanto telah keluar dari
kelasnya.
“
Beri hormat! Buk Dokter telah kembali dari kamar kecil.”
Tania
terus berjalan tanpa mendengar celotehan dari teman-temannya menuju kursinya.
Resky salah satu teman sekelasnya menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“
Boleh pinjam buku dan pulpen?” Ucap Resky kepada Tania secara baik-baik. Tania
memberikan apa yang diminta oleh Resky.
Setelah beberapa saat menulis sesuatu di buku tulis Tania, Resky berterima kasih
sambil tersenyum penuh arti dan beranjak dari samping Tania.
Dasar miskin
Bisa gak Jangan mimpi?
Menghayalnya kurang
tinggi
Jangan mengharap yang
gak pasti
Tania
melihat tulisan tersebut dan segera merobek lembaran kertas yang di tulis
kalimat besar-besar itu, ia sangat kesal sambil mencengkram erat sobekan kertas
itu hingga buku tangannya memutih. Tania memang sudah sering mendapatkan
cemoohan dari para murid orang kaya, namun ia tidak menghiraukannya dan
akhir-akhir ini mereka semakin menjadi dalam membully para siswa yang hidupnya
kekurangan. Gumpalan kertas yang berada di tangannya Tania ia lemparkan dan
mengenai punggung Resky yang berjalan menjauh, sontak Resky segera berbalik
kembali menghampiri Tania.
“Maaf,
apa maksud anda melempar saya dengan kertas? Anda punya sopan santun? ” Ucap
Resky pada Tania dengan tatapan tanya, nada suaranya yang sopan akan
berkebalikan dengan tingkah lakunya.
Resky
merupakan salah satu anak orang kaya, selain kaya ia juga merupakan murid
pintar juara paralel tahun lalu. Resky juga mengikuti banyak organisasi di
sekolah, ketika di hadapan guru dan anak orang kaya lainnya ia akan bersikap
manis , namun jangan harap kepada golongan murid yang terbilang miskin, Resky
tidak akan segan untuk bertindak di luar akal kepada mereka entah apa yang
merasukinya sehingga Resky memiliki sifat yang seperti itu.
“
Jangan pura-pura baik deh, sebenarnya siapa yang tidak punya sopan santun? apa
harus terus jaga image?” tantang Tania sambil menaikkan satu alisnya.
Resky
tiba-tiba mengambil buku Tania yang tadi ia pinjam kemudian membasahinya dengan
air minum Tania yang berada di atas meja. Resky melangkah keluar, Tania panik
mengikutinya dari belakang, ternyata Resky memasukan buku Tania ke dalam tong
sampah di depan kelas.
“
Itu buku tugas Tania,” Tania berkata lirih sambil menatap nasib buku tugasnya,
Tania kemudian mengambil bukunya di dalam tong sampah dan segera pergi berlari
menuju lantai atas sekolah. Di Rooftop sekolah tempat kesukaan Tania ini ia
membuka bukunya yang basah lebar-lebar berharap bukunya akan kering dengan
hembusan angin dan semoga hasil tugasnya tidak luntur.
“
Hai Tania,” Seseorang muncul dari belakang Tania dan menyapanya.
“
Hai Diana,” Jawab Tania sambil terus membolak-balikan buku tugasnya agar cepat
kering dengan merata. Tania mengenal Diana karena ia adalah teman sekelasnya,
nasib mereka sama yaitu sama-sama berasal dari keluarga yang tidak berada.
“
Aku suka sama mimpi kamu Tania.” Ucap Diana dengan tulus.
“
Terimakasih, andai saja ya kita bisa menegakkan keadilan di sekolah ini.”
“
Tapi kan,”
“
Iya Tania tahu, mereka itu donatur utama sekolah, peluang kita kecil kan buat
menggapai mimpi kita .”
Mereka
berdua tersenyum getir menatap langit yang mulai menurunkan titik-titik kecil
air, seakan langit pun ikut menangis melihat kehidupan mereka. Mereka pun
kembali ke kelas dengan tidak bersemangat, berharap semua ini hanya mimpi buruk
dan esok hari kehidupan mereka akan berubah.
******
“Kenapa kamu nak?” Tanya ibu Tania
khawatir karena melihat anaknya yang seakan kehilangan jiwa itu.
“ Tania gak akan pernah bisa kuliah ya
bu? ” Tanya Tania menatap ibunya sendu.
Ibu Tania hanya memeluk hangat putri
satu-satunya itu, tidak tahu harus berkata apa ia memang tak akan mampu
membiayai putrinya untuk melanjutkan kuliah. Air mata yang sedari tadi Tania
tahan dengan santainya meluncur hangat di pipi Tania, ia menangis dalam pelukan
ibunya. Setelah beberapa saat, ibu Tania melonggarkan pelukannya lalu tangannya
mengusap puncak kepala tania lembut. Terdengar suara dengkuran halus berasal
dari Tania, napasnya teratur dan sepertinya Tania kelahan. Ibu tania menidurkan
Tania di kursi sofa yang tadi ia dan tania duduki tidak tega untuk membangunkan
putri kesayangannya itu.
“Maafkan ibu nak, Ibu akan berusaha
lebih untuk menuntunmu menggapai mimpimu itu.”
Tania hanya tinggal berdua dengan ibunya
yang seorang penjahit, ayahnya telah meninggal dunia ketika tania SMP.
*******
Mata
Tania sedikit sembab akibat ia yang semalam menangis di pelukan ibunya. Ketika
memasuki kelas hanya ada Diana yang terlihat sibuk mencatat sesuatu.
“
Hai Diana, apa yang kamu lakukan? ” Tanya Tania kebingungan.
“
Hai Tania, aku sedang berlatih mengerjakan soal untuk materi matematika hari
ini. Kau tahu kan jika Pak Toyo terkadang memanggil salah satu murid secara
mendadak untuk mengerjakan soal di depan kelas.” Diana menjawab lugas sambil
terus melakukan kegiatannya itu.
Memang
benar gurunya itu selalu memberikan latihan secara mendadak kepada salah satu
muridnya sehingga muridnya benar-benar di tuntut memahami materi yang telah di
ajarkan. Tania semalam tidak melakukan apa-apa selain melamun dan termenung,
buku tugasnya pun untuk latihan menguji materi telah tidak berbentuk Karena
kelakuan Resky kemarin. Semua tulisannya luntur dan bukunya kering seperti
kerupuk karena terlalu lama dikeringkan oleh Tania. Hari ini rasanya dewi
fortuna sedang tidak berpihak kepadanya, masalahnya ketika pelajaran matematika
Tania ditunjuk oleh Pak Toyo mengerjakan salah satu soal mengenai Trigonometri
yang tidak ia mengerti sama sekali. Tania rasanya hanya ingin tenggelam saja ke
dalam inti bumi karena ia sekarang hanya diam di depan kelas sambil memegang
spidol untuk mengerjakan soal di papan tulis. Tania mulai berharap yang tak
pasti, ia berharap spidol yang dipegangnya dapat mengerjakan soal matematika
itu dengan sendirinya tanpa memerlukan adanya impuls yang dikirimkan menuju
otak manusia untuk diproses dan dikirimkan kembali menjadi sebuah respon untuk
mengerjakan soal tersebut.
Wajah Tania semakin pias karena seakan
tidak ada yang peduli padanya, di ujung
iris matanya ia melihat Resky yang tersenyum meremehkan.
“ Bagaimana Tania? mengapa kamu hanya
berdiri saja tidak mengerjakan soal tersebut?” Tanya Pak Toyo yang melihat
tania yang hanya berdiri bak patung.
“ Maaf pak, Tania tidak bisa mengerjakan
soal ini”
Beberapa
murid di kelas Tania mentertawakannya, Pak Toyo hanya menggelengkan kepalanya
tanda kecewa, Tania merunduk malu akan hal tersebut. Pak Toyo beralih menunjuk
Resky untuk mengerjakan soal yang tidak Tania sentuh sama sekali, Resky mengerjakan
soal tersebut dengan cekatan tidak heran jika Resky dapat mengerjakan soal
tersebut dengan mudah dan Tania masih setia berdiri mematung di samping papan
tulis.
“ Bagus Resky, jawaban kamu tepat
silahkan kembali ke tempat. Dan kamu Tania kerjakan soal latihan halaman 13
kumpulkan besok. ” Pak Toyo memberikan interuksi terakhirnya karena bel
istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Ketika murid yang lainnya
pergi ke kantin untuk memenuhi kewajiban yang harus mereka laksanakan untuk
tubuh mereka, Tania di kelas yang dikelilingi buku dan memaksa tangannya
menari-nari di sebuah kertas untuk mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh
Pak Toyo.
“ Percuma saja dikerjakan, gak bakal
bisa.” Suara seseorang yang tidak ingin Tania tangkap oleh telinganya itu
terdengar, Tania mencoba bersikap tak acuh pada hal tersebut.
Semakin Tania mencoba mengerjakan soal matematika tersebut, semakin
Tania merasa kepalanya akan pecah berkeping-keping. Tania membereskan secara
asal bukunya karena ia ingin beristirahat sejenak, Tania hanya dapat
mengerjakan satu soal dari sepuluh soal yang ada. Tania menelungkupkan wajahnya
di atas meja sambil menutup matanya mencoba menenangkan otaknya yang terasa
berdenyut.
Murid-murid berhamburan keluar dari wilayah sekolah, Tania sedikit
menyeret kakinya menuju perpustakaan dan berniat menyelesaikan tugas sekolahnya
disana. Tidak disangka cukup banyak penghuni perpustakaan hari ini karena
memang perpustakaan yang di buka lebih lama dari waktu belajar-mengajar di
sekolah menjadi tempat bagi murid-murid yang belum berniat untuk pulang
kerumah.
“ Satu soal lagi dan tugas Tania akan
selesai.” Ucap tania sambil meregangkan otaot-otot tangannya yang terasa kaku
setelah sekian lama menenggelamkan diri dengan soal matematika yang menjadi
tugasnya.
Tania bersiap kembali mengerjakan satu soalnya yang tersisa, tangannya
sedari tadi tidak menggoreskan coretan apapun di kertas setelah sekian lama
berpikir mencoba mencari jawaban untuk soalnya yang terakhir.
“ Perlu bantuan? ” Siswa yang sebaya
dengan Tania duduk di hadapannya sambil tersenyum.
Tania mendongak menatap sang empunya suara,
Tania mengenalnya ia adalah Agis sang pemilik peringkat juara kedua umum
paralel setelah Resky. Tania merasa beruntung
dikirimkan seorang Tim SAR saat ia mengalami bencana kesulitan
mengerjakan tugas ini. Segera saja Tania bertanya soal dari tugas terakhirnya
yang ia rasa sangat sulit, namun anehnya setelah diberikan penjelasan mengenai
cara pengerjaan soal oleh Agis soal itu berubah menjadi soal yang sangat mudah
memang pantas Agis menjadi peringkat kedua bahkan Tania berpendapat jika
seharusnya Agis yang menjadi peringkat pertama karena bukan hanya otaknya yang
cerdas namun juga Agis sangat baik.
“ Terimakasih.” Ucap Tania setelah
selesai mengerjakan tugasnya kepada Agis.
“ Sama-sama” Jawab Agis dengan alur muka
yang tenang.
“ Oke, Tania pulang duluan” Tania
berniat beranjak dari tempat duduknya setelah mengucapkan terimakasih.
“ Tunggu Tania!, jadi seperti ini. Semua
orang itu berhak bermimpi dan selanjutnya keputusan orang itulah yang
menentukan apakah ia akan bangun dari tidurnya dan membuat mimpi itu jadi nyata
atau ia hanya akan tetap tidur berharap mimpi indahnya akan tetap ada saat ia
tertidur. ” Ucap Agis penuh arti dan kemudian Agis pergi keluar dari ruangan
perpustakaan dan menghilang dari pandangan Tania.
Tania yang sempat terhenti gerakannya
saat ia kembali dipanggil oleh Agis terdiam sekejap kemudian ia tarik kedua
sudut bibirnya sehingga membentuk lengkungan yang manis. Tania pulang ke
rumahnya dengan semangat dan senyuman yang tak hilang dari wajahnya.
******
Keesokan harinya Tania mengumpulkan tugasnya saat Pak Toyo masuk ke
ruangan kelasnya untuk mengajar pelajaran matematika dan jawaban dari tugasnya
ternyata benar semua, Tania sangat bahagia dan puas akan hasil dari kerja
kerasnya dan bantuan dari Agis.
“Dapet
hasil dari nyontek kan? ” Tanya Resky saat jam istirahat saat tania masih
menyalin materi dari papan tulis ke bukunya Tania tidak peduli kepada Resky
yang berada di sampingnya.
“
Jangan munafik deh, hasil kerja orang lain kok ngakunya punya sendiri.” Resky
melanjutkan perkataannya setelah ia merasa tidak diperdulikan Tania.
Aliran
air jeruk mengalir di atas meja Tania mengenai ujung bukunya setelah dengan
cekatan Tania segera mengangkat bukunya itu ke atas. Tania kesal ini kedua
kalinya buku Tania basah oleh Resky ia tidak bisa bersabar lagi.
“
Permisi Pak Resky!, saya mengerjakan tugas dengan usaha sendiri. Apa anda baru
menyadari kalau saya itu adalah murid yang cerdas? Apa anda takut prestasi
juara umum anda saya rebut? Mungkin saja kecerdasan saya jauh melampaui
kecerdasan anda?.” Tania menjawab dengan percaya diri dengan menunjukan
tatapannya yang seperti menantang Resky, tangannya ia simpan di pinggangnya
sambil tertekuk. Wajahnya terangkat menantang.
“
Benarkah? Berani dibuktikan? Saya tantang kamu, kalo kamu benar-benar bisa rebut
prestasi saya, saya tidak akan mengganggu kamu lagi dan melarang teman saya
mencemooh kamu.” Tantang Resky kepada Tania dengan sungguh-sungguh, setelah itu
ia pergi meninggalkan Tania yang masih
berdiri tegak di tempat duduknya.
“
Oke, siapa takut saya terima tantangan kamu. Kita bersaing!”
Tania beranjak dari tempatnya ia
melangkahkan kakinya menuju Rooftop sekolah, mencoba menenangkan diri
setidaknya di sana sepi dan damai. Sesampainya Tania di Rooftop sekolah ia
membaringkan tubuhnya, tidak peduli seragamnya yang menjadi kotor akan hal
tersebut. Tania memejamkan matanya perlahan mencoba mencari ketenangan jiwa,
saat Tania membuka matanya ia melihat sesosok siluet dan sontak saja membuat
Tania terduduk tegak. Ternyata orang itu adalah Agis. Sejak kapan Agis disini?
Entahlah. Mereka duduk secara berdampingan tanpa berkata membiarkan angin yang
menyapa mereka dengan suara halusnya memberikan ketenangan yang membelai lembut
kulit mereka.
“
Ada masalah? ” Tanya Agis terlebih dahulu memecah keheningan yang sedari tadi
membelenggu mereka.
“
Aku terlalu nekat karena menerima tantangan dari Resky untuk merebut gelar
prestasinya. padahal aku sadar diri gak akan bisa seperti itu, mungkin nanti
orang yang mencemoohku akan semakin banyak.” Tania mengeluh sambil menatap
langit menceritakan masalah yang memenuhi hatinya.
“
Saya yakin jika bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu hal pasti akan
berhasil, bel masuk sudah berbunyi saya izin ke kelas duluan. Kalau kamu butuh
bantuan silahkan temui saya.” Ucap Agis beranjak dari duduknya menuju ke kelas.
Setelah kepergian Agis, Tania menghirup
udara sebanyak-banyaknya seakan berniat memenuhi paru-parunya dengan kapasitas
yang maksimal lalu menghembuskannya kasar. Tania berdiri dan membersihkan
sedikit roknya, kemudian berjalan menuju kelasnya.
******
“Sedang apa kamu nak?” Tanya Ibu Tanti ibunya Tania.
“ Tania sedang belajar untuk pelajaran esok hari
bu.” Jawab Tania sopan sambil tangannya terus menari-nari di sebuah buku lusuh di
hadapannya.
“ Ibu yakin, kalau kamu bersungguh-sungguh melakukan
suatu hal pasti akan berhasil. Terus berjuang ya nak ibu selalu mendoakanmu.”
Apa ini? Tania merasa déjà vu, perkataan ibunya
mirip seperti perkataan Agis padanya ketika berada di Rooftop. Ternyata masih
banyak orang yang peduli kepada Tania, Tania berjanji kepada dirinya sendiri untuk
bersemangat belajar demi menggapai cita-cita.
“ Iya bu, terimakasih” Ucap Tania menjawab perkataan
ibunya sambil tersenyum kemudian memeluk erat tubuh seorang bidadari yang
selalu membuat perasaannya hangat.
Tania melanjutkan belajarnya dan ia merasa ada bara
api yang telah menyulut semangatnya sehingga ia lebih giat belajar kedepannya.
******
Bagai berita buruk yang turun dari langit yang
melukai bumi, Hari ini merupakan bencana bagi beberapa siswa karena hari ini
mereka diharuskan mengikuti ujian bahasa inggris secara mendadak, ditambah lagi
setelah itu mereka harus mengikuti ujian matematika dan biologi yang sebelumnya
telah guru mereka beritahukan. Memang ironis rasanya bagi para murid kecuali
Tania, mukanya tenang ia merasa yakin akan
jawaban pada ulangannya karena ia telah belajar secara rutin akan materi-materi
yang tadi dijadikan materi ulangan. Seminggu kemudian hasil ulangan dibagikan,
tercetak jelas seulas senyuman dari wajah Tania, Bagaimana tidak hasil
ulangannya cukup memuaskan dengan skor bahasa inggris 83, matematika 82, dan
biologi 85 . Ia merasa usahnya setiap malam rutin belajar tidak sia-sia, Tania
berencana menunjukan ini pada ibunya dan membuat ibunya bangga.
Ketika Tania pulang dan hendak melewati gerbang
sekolah dia dihadang oleh Resky.
“ Permisi anda menghalangi jalan, bisa tolong bergeser?”
Ucap Tania kesal karena perjalanannya terganggu.
“ Tunjukkan hasil ulangan kamu! ” Ucap Resky
memerintah kasar pada Tania.
Melihat Tania diam saja Resky merebut tas gadis
tersebut dan mengeluarkan isinya paksa, semua barang di dalam tas Tania dikeluarkannya
sehingga berserakan di tanah. Resky terkejut
melihat hasil ulangan Tania, dia tersenyum meremehkan karena tak percaya
skor nilai yang di dapat Tania.
“ Nyontek dari siapa? ” Tanya Resky tanpa rasa
bersalah menuduh Tania.
“ Kenapa? anda merasa di kalahkan oleh saya, dan
ingat ya itu hasil kerja Tania sendiri. Sepertinya Tania akan memenangkan
persaingannya.” Tania berkacak pinggang dengan percaya diri.
“ Sepertinya
penyakit anda yang berharap terlalu tinggi itu masih ada” Resky merobek-robek
hasil ujian Tania menjadi potongan kecil sambil tersenyum mengejek.
Tania terkejut jantungnya terasa turun ke perut di
tambah dengan Resky yang menunjukan nilai hasil ujiannya dengan skor bahasa
inggris 100, matematika 98, dan biologi 100.
Resky tersenyum puas kemudian berlalu pergi. Tania memunguti sobekan
kertas nilai hasil ulangannya itu dan memungutinya.
“ Waw, itu jumlah penduduk di Indonesia apa nilai
hasil ulangan? Banyak amat angkanya. Tapi Tania kesal, harus banget ya dia
robek-robek kertas hasil ulangan Tania? tuh kan
jangan-jangan sekarang Tania gila karena ngomong
sendiri.”
“ Iya, sepertinya kamu gila.” Agis yang secara
tiba-tiba muncul dan membantu membereskan barang-barang Tania yang berserakan.
“ Terimakasih” Ucap Tania tulus.
“ Sama-sama, kalo masih perlu bantuan yang lain
dengan senang hati saya akan membantu,” Agis tersenyum menatap Tania.
“ Iya tidak perlu repot-repot, ehm… ada sih satu hal
yang Tania butuh buat ditolong.” Tania berkata yang dengan itu Agis dibuatnya
penasaran.
Sekarang ini Tania dan Agis berada di salah satu
meja di perpustakaan, mereka tengah menyusun potongan- potongan kertas kecil
hasil ulangan tania dan menyusunnya agar utuh menggunakan lem.
“ Sepertinya ini salah satu bagian dari hasi ulangan
bahasa inggris kamu.” Ucap Agis kurang yakin.
“ Ah ya itu bagian tepi atas hasil ulangan bahasa
inggris Tania, terimakasih sudah menolong Tania dan maaf jadi merepotkan. Tania
ingin menunjukan hasil ulangan Tania pada Ibu agar dia bangga akan usaha Tania,
tidak mungkin kan Tania memberikannya dalam bentuk potongan kertas?” Tania
tersenyum getir meratapi nasibnya yang memang segini mengenaskannya.
“ Tidak, saya senang membantu kamu. Boleh saya
bertanya beberapa hal? ” Agis berkata sambil terus fokus menyusun potongan
kertas.
“ Apakah kamu sering dibully seperti itu oleh Resky?
” Agis bertanya sepelan mungkin agar tidak menyinggung perasaan Tania dan juga
disini adalah perpustakaan dilarang untuk berbicara kuat-kuat. Tania hanya mengangguk lemah sambil tertunduk
kegiatannya menyusun potongan kertas terhenti sejenak.
“ Maaf ya
jika saya menyinggung perasaan kamu.” Agis merasa bersalah telah bertanya
seperti itu.
“ Tidak apa” Tania tersenyum dan melanjutkan
kegiatannya.
“ Memang apa yang akan terjadi kalo misalkan kamu
tidak bisa merebut posisi Resky sebagai juara paralel?.” Agis kembali bertanya
demi mengurangi kekhawatirannya akan apa yang terjadi pada Tania jika ia tidak
bisa memenangkan persaingannya dengan Resky.
“ Entahlah Tania tidak tahu, Tania juga tidak
terlalu yakin akan kemampuan Tania.” Tania tersenyum miris menjawab pertanyaan
dari Agis.
“ Saya yakin jika kamu melakukannya dengan sepenuh
hati, pasti bisa terwujud. Jangan menyerah sebelum perang dimulai.” Agis
tersenyum hangat dan membuat perasaan Tania lebih tenang.
Setelah selesai menyusun semua potongan kertas dan
merekatkannya dengan lem, Agis dan Tania pulang ke rumahnya masing-masing. Tak
terasa langit mulai sore memang kegiatan menyusun kertas seperti itu memakan
banyak waktu, Tania hingga berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada Agis
yang telah membantunya.
******
Tania mendekati ibunya dengan kertas yang penuh lem
ditangannya yang tengah menjahit tas Tania di ruang keluarga. Tania duduk di
sebelah ibunya yang tengah serius itu, ibunya menyadari kehadiran Tania dan
menghentikan kegiatannya sejenak.
“ Ada apa nak?” Tanya ibu tania kepada anaknya.
“ Bu, hasil ulangan Tania minggu lalu telah
dibagikan. Ibu mau meihatnya?” Tania menyodorkan kertas hasil ulangannya.
Kening ibunya Tania berkerut keheranan melihat kertas ujian Tania yang penuh
dengan tempelan lem.
“ Kenapa kertas ujianmu seperti ini nak?”
“ Oh itu, ehm… tadi Tania kesal sama anak kelas ada
yang tidak piket jadi Tania gak sengaja deh ngerobek kertas hasil ujian Tania
hehe..” Menurut Tania itu adalah alasan yang bodoh mana mungkin ada yang
percaya jika alasannya seperti itu. Tania merutuki dirinya sendiri ia terdiam
wajahnya terlihat gusar.
“ Ibu bangga padamu nak, kamu harus lebih giat lagi
belajar ya agar mimpimu terwujud.” Ibu
Tania mengusap lembut kepala anaknya dan mengecup
dahi anaknya penuh sayang.
“ Iya bu, Tania akan beajar ebih giat lagi.” Tania
tersenyum, hatinya menghangat merasakan kasih sayang seorang ibu.
******
Semakin
hari Tania semakin giat dalam belajar, nilainya pun dalam semua pelajaran
meningkat drastis dan terkadang skor nilai Tania menyamai skor nilai dari
Resky. Tania dan semua anak kelas 12 telah menyelesaikan kewajiban mereka yaitu
ujian, mereka telah mengikuti ujian prektek, ujian sekolah, ujian sekolah, ujian
sekolah dan Ujian Nasional, mereka juga
telah mendaftar ke masing-masing universitas impian mereka. Hari ini adalah
hari yang di tunggu-tunggu mereka akan mendapatkan pengumuman dari kepala
sekolah, semua kelas 12 berkumpul di ruangan Aula sekolah.
“ Selamat bagi kalian semua anak kelas 12 di
angkatan ke-37 ini, kalian telah melewati segala rintangan dan tantangan yang
harus kalian lewati. Selama 3 tahun kalian belajar disini, berbulan-bulan
kalian mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dan berminggu-minggu ujian telah kalian lewati dengan sukses, saya
yakin akan bertemu kalian di kemudian hari dengan kalian masing-masing yang
telah menggapai mimpi. Mengapa saya berkata demikian?, karena hari ini pada
tanggal 26
Desember 2004 angkatan ke-37 SMAN GARUDA
saya nyatakan lulus 100% ” Ucap kepala
sekoah secara lugas.
Semua murid bersorak gembira karena mereka
merasa puas, usaha mereka tidak sia-sia untuk menggapai masa depan. Tania
merasa tanah yang dipijakinya sedikit bergetar ia melihat sekeliling sepertinya
semua orang tidak terlalu terpengaruh akan getaran kecil yang ditimbulkan bumi,
dia melihat Agis yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan
wajahnya terlihat tegang. Tania menggerakan bibir memberi isyarat kepada Agis
dan bertanya ‘kenapa?’, namun Agis hanya menjawabnya dengan menggeleng dan
tersenyum dipaksakan.
“ Sekarang saya akan mengumumkan kepada kalian
murid-murid yang berprestasi dan yang berhasil diterima di universitas impian
mereka. Saya mulai, yang menjadi juara pertama paralel dan ia di terima di
jurusan kedokteran UI yaitu Resky Arka Syahputra dari kelas 12 IPA 3. ” Semua
murid di Aula bertepuk tangan kecuali Tania. Ia memberenggut sedih karena
nyatanya ia tidak bisa merebut juara paralel dari Resky, entah apa yang akan
Resky lakukan pada Tania setelah ini. Resky melangkah maju ke sebelah kepala
sekolah ia langsung di sambut hangat oleh para guru dan kepala sekolah.
“ Peringkat kedua paralel dan diterimanya ia di
jurusan tekhnik Infomatika di UI juga, dia adalah Agis Argasagara dari kelas 12
IPA 1.” Agis melangkah kedepan ia menatap Tania dan tersenyum tenang berbeda
dengan tadi dan Tania pun membalas senyuman itu.
“ Selanjutnya peringkat ketiga paralel dan ia
diterima di jurusan Kedokteran UNPAD, yaitu Tania Fiatul Zahra dari kelas 12 IPA
3”
Tania
tercengang, ia tak menyangka jika ia akan mendapat peringkat ke tiga paralel.
Ia merasa dirinya di tarik ke dunia mimpi ataukah mimpinya yang menjadi nyata?.
Tania melangkah perlahan banyak dari teman-teman sebayanya yang juga tak
percaya, ia melihat ke arah Agis dan tersenyum bahagia. Agis membalas tersenyum
dan ia tek menyangka jika Resky tengah tersenyum kepadanya dengan tulus bukan
senyum meremehkan yang biasa ia tunjukkan pada Tania, Tania bertanya dalam hati
dan ia berpendapat jika mungkin Resky sedang sakit hingga ia tersenyum hangat
seperti itu.
Sedetik setelah Tania mendapatkan berkas-berkas
prestasi dan juga hadiahnya tepatnya pukul 07.58, tanah
yang Tania pijak bergetar hebat. Foto-foto dan lukisan yang menempel di dinding
berjatuhan, Tania sulit mengendalikan keseimbangan tubuhnya dan ia terjatuh
dengan susah payah tania kembali berdiri. Secara tiba-tiba terulur sebuah
tangan yang segera menarik tania menuju ke luar ruangan menuju lapangan luas
dan setelah dilihat secara teliti ternyata Resky yang tadi berusaha menolong
Tania keluar bersamanya, Tania merasa matanya masih normal dan ia yakin itu
adalah Resky, penyakit apa sebenarnya yang dialami Resky sekarang sehingga
sikapnya berubah drastis.
“ Terimakasih” Ucap Tania tulus, namun tidak di
gubris oleh Resky yang tengah fokus menatap langit.
Tania mendengus kuat dan sesaat kemudian terlihat
Agis yang menghampiri mereka dengan wajahnya yang tegang.
“ Gempa tadi saya perkirakan sebesar sebesar
9,1 SR. Saya harap kamu segera pulang dan membereskan barang-barang penting, carilah
tempat tinggi yang aman.” Ucap Agis tergesa-gesa kepada Tania.
“ Kenapa?” Tanya Tania heran, dan ia baru menyadari
jika Resky sudah tidak berada di
sebelahnya lagi. Agis melihat Tania yang masih memegang berkas-berkas
prestasinya erat.
“ Cukup ikuti perintah saya dan kamu akan selamat.
Oh ya, masukan berkas kamu kedalam tas
ini didalamnya juga terdapat berkas-berkas prestasi saya, saya titip itu.” Agis
memberikan tas plastik dengan model yang bagus dan praktis segera saja Tania
memasukan berkasnya dan memegang erat tas tersebut. Agis mengikat kencang tas
tersebut pada pergelangan tangan Tania, simpul yang kuat namun tidak menyakiti
dan setelah itu Agis segera pergi.
Tania berjalan pelan menuju rumahnya, masih
kebingungan dengan perkataan Agis padanya. Rumah Tania melewati pantai di Aceh,
ia melihat beberapa orang tengah memunguti ikan-ikan yang terdampar di tepi Pantai
secara tiba-tiba. Tania berhenti sejenak untuk melihat kegiatan beberapa warga
tersebut, ia duduk di kursi tepi pantai sambil terus memegang erat tas yang di
berikan oleh Agis. Dia merasakan sedikit ngilu di kaki kirinya dan setelah
dilihat ternyata kakinya membiru mungkin saja karena Tania yang tadi terjatuh
saat gempa. Tania memperhatikan air laut yang semakin menyurut, namun orang-orang
tetap asyik memunguti ikan di tepi Pantai. Di kejauhan Tania melihat sebuah
gulungan ombak, namun rasanya bukan tania lebih menyipitkan matanya. Itu
bukanlah Ombak biasa karena ombak itu berubah menjadi gunungan air yang kian
membesar menuju daratan, Tania segera tersadar dan ia berteriak.
“ Bapak, Ibu ada tsunami cepat selamatkan diri
kalian!.” Tania
segera menjauhi pantai berlari secepat mungkin menuju rumahnya, namun
langkahnya tersendat karena rasa sakit di kaki kirinya, orang-orang yang
tersadar segera menyusul berlarian seperti dirinya.
Setelah mendekati rumahnya Tania melihat ibunya yang
berdiri di depan rumah, segera saja Tania menarik lengan ibunya untuk berlari
tanpa memperdulikan rasa sakit di kakinya yang ia rasa membengkak.
“ Ibu ayo bu, kita harus berlari ke dataran tinggi
ada tsunami datang.” Tania menarik tangan ibunya sambil terus berlari tanpa
mengurangi kecepatan yang justru semakin
mempercepatnya, napas Tania terengah-engah sambil sesekali ia terjatuh tersandung
beberapa barang hingga menambah luka di kakinya. Tania terus memegangi erat tas
yang dibawanya, Ibu Tania selalu membantu Tania untuk kembali bangkit berdiri
dan berlari. Namun apa daya, terjangan tsunami lebih cepat dari kecepatan
mereka berlari. Tubuh Tania dan ibunya terhempas air tsunami mereka
terpisahkan. Tania mencoba berenang sekuat Tenaga meraih permukaan, kakinya
terasa sangat perih dan nyeri, ia masih terapung terseret air. Setelah sampai
di permukaan Tania terbatuk-batuk meraih bongkahan kayu yang terapung di
depannya, ia mengambil oksigen sebanyak mungkin guna memenuhi paru-parunya.
Tania sangat sedih karena terpisah dari ibunya, ia menatap tasnya yang
senantiasa masih melekat di pergelangan tangannya. Tania berpikir apakah Agis
itu seorang cenayang atau apa dia seperti sudah memprediksi segalanya bahkan
agar berkas prestasi Tania tidak basah ia memberikan sebuah tas plastik, jika
saja ia mengikuti semua arahan agis tadi
mungkin ia tidak akan seperti ini.
“ Tolong! tolong Tania! Tania mohon.” Tania berteriak dengan sedikit tenaga yang
masih ia miliki, namun tidak ada yang menjawabnya. Tania melihat mayat terapung
melewati Tania, Tania tidak bisa menahan tangisannya.
“ Ibu tolong Tania bu, Tania takut,
tolong bu tolong. ” Tania berucap lirih ia menangis sambil memeluk tas plastik
yang ia bawa.
“
Tolong Tania bu!.” Tak lama
kemudian tania mendengar suara gemeretak yang berasal dari bangunan tinggi di
sebelahnya yang sepertinya akan runtuh, dengan sisa tenaga yang ada Tania
mencoba berenang menjauh sekuat tenaga dari bangunan itu. Tanpa di duga tubuh
Tania dihantam keras puing bangunan tersebut tenggelam ke dasar air. Tania
merasa seluruh tubuhnya sakit dan ketika ia hendak kembali berenang menuju
permukaan, kaki kirinya tersangkut puing-puing bangunan. Tania menarik kakinya
paksa, walaupun rasa sakit yang ia rasakan teramat sangat menyakitkan Tania
terus menarik kakinya paksa. Tania telah mencoba mengangkat puing bangunan yang
menyangkut kakinya namun tenaga Tania rasanya sudah habis, oksigen dalam
paru-paru Tania pun telah terkuras napas tania tercekat. Apakah ini akhir hidup
dari Tania? Tania rasa ia sudah tak sanggup bertahan lagi tubuhnya lemas, namun
Tania sangat ingin menunjukan prestasi kepada ibunya dan mengatakan kalau tania
selengkah lagi berhasil menggapai impiannya. Tania memeluk erat tas plastik
yang di berikan Agis, oh ya biasanya jika Tania dalam kesulitan Agis akan
menolongnya. Bolehkah sekarang Tania mengharapkan Agis untuk menolongnya?
“ Agis apakah Tania boleh meminta tolong
untuk yang terakhir kalinya? Tolong Tania Agis, Tania mohon.” Tania berucap dalam
hati dengan penuh pengharapan sambil tetep memeluk erat tas yang melekat
padanya.
Mata tania menjadi buram, kepalanya
berdenyut sakit mungkin ia mulai berhalusinasi karena ia merasa siluet
seseorang mendekatinya.
“ Agis?” Ucap Tania tanpa suara, ia
melihat Agis yang tengah tersenyum hangat ke arahnya.
Tania membuka matanya perlahan dan ia
tengah berbaring di atas puing bangunan yang terapung, tas itu masih senantiasa
melekat di pergelangan tangannya.
“ Agis?” Tania memanggil pelan orang
yang telah menolongnya.
“ Agis? Agis dimana? Tunjukan diri kamu.
Jangan tinggalin Tania sendiri. Agis?” Tania semakin kencang meneriaki nama
Agis, entah kenapa Tania kembali menangis dan Tania rasa sekarang ia menjadi
gadis yang cengeng.
Setelah dua hari Tania Terapung dan
bertahan hidup hanya dengan meminum air, Tania melihat perahu karet TIM SAR
segera saja Tania meminta pertolongan dan ia di bawa ke rumah sakit.
Tania terbangun dari tidurnya kepalanya
berdenyut kencang, kaki dan badannya terasa sakit semua. Mata Tania yang sembab
terasa berat bagaimana tidak, Tania selama terapung selalu menangis dan
meneriakkan nama Agis. Di samping Tania telah berada ibunya Tania dan Resky
yang berdiri.
“ Ibu? Syukurlah ibu selamat.” Tania
segera memeluk ibunya, pelukan yang hangat sehingga Tania merasa semua rasa
sakitnya menghilang. Tania melonggarkan pelukannya perlahan dan menatap Resky
bingung.
“ Resky? Syukurlah kamu juga selamat.”
Ucap Tania tulus.
“ Ehmm, Tania aku mau minta maaf atas
perlakuan aku selama ini ke kamu, kamu sudah berhasil membuktikan ke aku kalau
kamu memang bisa meraih mimpi kamu.” Resky berucap dengan penuh penyesalan.
“ Tania udah maafin, lagi pula Tania
gagal merebut posisi juara paralel dari kamu.”
“ Tapi kamu berhasil meraih peringkat
ke-tiga.”
“ Ya itu semua berkat ibu dan juga Agis,
oh ya Agis mana? Tania mau ngucapin terimakasih.”
Resky menunjukan sesuatu di handphone
nya kepada Tania dan dia tertunduk lemah. Tania melihat sebuah berita di HP
Resky yang berbunyi “ Seorang siswa
ditemukan tewas di sekitar puing gedung tinggi.” Tania membacanya hingga
selesai dan ternyata Agis lah siswa
tersebut sebulir air mata Tania menyeruak keluar tanpa bisa di tahan dan tempat
ditemukannya mayat Agis ialah tempat dimana Tania diselamatkan. Tania segera
mengusap air matanya dan tersenyum sambil bertanya,
“ Ibu ada tas Tania yang tadinya terikat
di tangan Tania? ” Ibu Tania memberikan tasnya kepada Tania.
“ Ibu disini ada berkas prestasi Tania
dan Agis, Tania dapat juara 3 paralel bu
dan Tania diterima di jurusan psikologi UNPAD. ” Tania tersenyum pada ibunya.
Ibu Tania terharu dan memeluk putrinya
sambil mengusap kepalanya ia berkata,
“ Ibu bangga sama kamu nak ”
“ Bu? Tania izin pergi duluan ya bu
maaf. “ Tania tersenyum, Ibu Tania melonggarkan pelukannya dan tubuh Tania
tidak tegak berdiri, setelah di cek Tania sudah tidak bernyawa lagi. Ibu Tania
semakin memeluk erat putrinya.
“ Ibu bangga padamu nak, kamu berjuang
dengan keras ibu sangat bangga.”
Ibu Tania menangis, menunjukan rasa perih hati kehilangan
putrinya. Namun ia bangga, putrinya menutup mata dengan bintang yang
tergenggam.
Gimana ceritanya? Tolong krisannya kawan :)