Senin, 04 Maret 2019

Novel seru dan menarik *ARGARA*


Hai guys, setelah direvisi novel Argara pindah rumah nih dari wattpad jadi ke blog. penasaran ceritanya? jangan dibaca deh! hehe


********
"PROLOG"

       Kalian tahu negara Indonesia di tahun 2018? , di tahun tersebut  Indonesia menjadi tuan rumah ajang olahraga terpopuler  “ASEAN GAMES”   dengan meraih  31 emas, 24 perak dan 43 perunggu yang diadakan di Jakarta-palembang. Di masa itu para atlet dari setiap negara saling berkompetisi  secara sehat demi mengharumkan nama negara masing-masing  di masa itu mereka hidup damai dan tentram. Para pemimpin dunia di pilih menggunakan sistem pemilu dengan melibatkan aspirasi masyarakatnya , mencoba membangun masing-masing negaranya menjadi negara yang unggul di banding negara lain.
       Argara tersenyum kecut membaca kutipan sejarah dalam buku yang tengah dibacanya, jika dia bisa memilih, ia akan memilih  hidup di masa itu saja dan mungkin ia dapat menjadi atlet catur dimasa itu dengan memenangkan medali emas.
“ And welcome to 3097’s , dimana semua negara saling bersitegang dalam suasana perang yang terus-menerus demi menunjukan  negara yang paling layak berkuasa di dunia. ” Argara menghela napas panjang sambil berbicara ketus, membuat teman di sebelahnya mendelik kearahnya. Mereka sedang berada di perpustakaan sekolah Argara “Flash High School ”.
“ Lo kenapa sih Gar? Gak lagi menuju ambang ke-stress-an  stadium akhir kan otak lo? ” Rafa mengernyit heran melihat kondisi temannya yang mengenaskan itu.
“ Gue rasa hidup ini gak adil, ketika remaja seumuran kita dituntut mempersiapkan diri menghadapi perang yang sewaktu-waktu dapat terjadi.” Gara duduk di depan temannya sambil memakan permen karet yang selalu ia bawa di kantungnya.
“ Yaelah begitu aja dipikirin, kayak Doyok aja lo ngeluh mulu soal hidup”
Doyok adalah seorang mbak-mbak  penjaga perpustakaan yang  bernama asli “ Chaira halisya” menurut Gara mukanya mirip Doyok yang merupakan pelawak di era 90 an , jadi saja Gara memanggilnya dengan nama itu dan seluruh murid jadi mengikutinya.
Argara dan Rafi memang sering berkunjung ke perpustakaan sekolah yang luas, bukan untuk membaca buku seperti murid kutu buku yang biasa berkunjung ke perpustakaan, mereka malah membuat rusuh di perpustakaan dengan suara obrolan mereka yang sangat menganggu bahkan terkadang mereka naik ke atas meja dan membuat konser dadakan di perpustakaan . Bagi Argara dan Rafi perpustakaan merupakan markas mereka, dengan meja di pojok belakang perpustakaan yang tertutup rak besar, sehingga menjadikannya tempat yang strategis untuk bersembunyi demi menghindari pelajaran yang tidak diinginkan oleh otak mereka, walaupun mereka harus rela bersusah payah dengan menyogok Doyok dengan foto Pak Gayong yang menurutnya guru tertampan di FHS itu untuk membantu mereka.
“ Ada masalah  apa lo sampe ngajak gue bolos ke markas gini? Walaupun biasanya memang selau bolos sih   ” Rafi lanjut bertanya setelah tanggapannya tidak di respon oleh Gara yang sekarang tengah asyik membuat  bubble dengan permen karetnya.
“ Gak, gue mau refreshing aja capek sama hidup gue.” Gara menjawab dengan tak bersemangat sambil terus mengunyah permen karetnya.
“ Oh ya, gimana dengan kasus kakak lo? ”
Gara mengeluarkan permen karetnya dari mulut dan meletakannya di bawah meja, Rafi hanya memperhatikannya tak acuh karena telah terbiasa dengan kebiasaan Gara yang satu itu.
“ Gue sih mau pindah ke sekolah kakak gue, biar gue lebih gampang  nemuin bukti tentang siapa yang udah ngebunuh kakak gue. Besok  gue sekolah di THS.” Gara mengucapkannya dengan nada datar  mencoba menyembunyikan emosi yang tersembunyi di hatinya.
 “ TAKK” Kepala Gara terasa berdenyut merasakan sakit dari pukulan tangan sahabatnya yang tiba-tiba berdiri dan memukul kepala Gara. Sontak saja Gara meringis kesakitan.
“ Lo pindah gak bilang-bilang sama gue, aturan gue ikut pindah sama lo.” Rafi memprotes ucapan Gara.
“ Tadi kan gue udah bilang ”
“ Yeu kang sedot WC, ini sih dadakan bilangnya”
“ Yaudahlah, gue bisa ngusut kasus ini sendiri. Lo sekolah aja yang bener disini, lagipula gue gak mau ngerepotin orang lain”  
“ Yah gue gak ada bebep buat nongkrong  dan bolos bareng dong.” Rafi merentangkan tangannya hendak memeluk Gara dengan ekspresi yang ia buat se-imut mungkin.
“ Jijik, sono lo sama Doyok.” Gara menoyor kepala Rafi sambi beranjak dari duduknya menuju keluar perpustakaan Rafi memberenggut kemudian mengikuti Argara di belakangnya.
“ Jahat dih bebep mah.”
“ Ehh Gara, lo gak nempelin permen karet di bawah meja kan?” Gara hanya tersenyum tak berdosa sambil terus meneruskan langakahnya yang sempat terhenti karena Doyok yang menegurnya.
‘’ Gue santet lo ya kalo sampe ada permen karet nemplok dibawah meja ’’ doyok mendengus kuat-kuat.
     Saat keluar dari perpustakaan Gara dan Rafi melihat murid-murid berlarian dengan tergesa-gesa menuju lapangan, mereka bingung sekaligus penasaran, jadi mereka mengikuti langkah para siswa yang tampak antusias. Mereka berkumpul bukan di lapangan melainkan didepan “gedung 5” yaitu gedung olahraga yang mencapai 12 lantai. Gara melihat seorang siswi di sekolahnya yang tidak Gara kenal betul tengah berdiri di tepi atap lantai Rooftop Gedung 5 tengah menundukan kepalanya sambil menangis, seakan-akan ia membawa beban yang sangat berat di punggungnya. Para siswa panik dan berteriak menyuruh siswi tersebut turun. Gara segera berlari menuju Rooftop berharap dapat menghentikan siswa yang seperti berniat mengakhiri hidupnya, ia tidak sempat mengenakan lift yang terdapat di sekolah karena menurutnya itu membuatnya terlalu lama menunggu jadi ia menggunakan tangga darurat.
“ Setinggi apa tingkat depresi lo, sampe mau bunuh diri begini? ” Gara terengah, dengan tubuh yang dibasahi keringat. Kelelahan menaiki tangga hingga ke Lantai 12.
Siswi tersebut tidak menggubrisnya, ia hanya menarik napas panjang dan merentangkan tangannya sambil menjatuhkan diri. Gara dengan sigap menarik tangan siswi tersebut sebelum meluncur ke bawah, ia berusaha sekuat mungkin menarik siswi tersebut ke atas dengan susah payah. Para siswa lainnya berteriak takut di bawah,
“ Lepasin, gue mau mati aja!.” Siswi tersebut terisak, sambil menggantung di ketinggian gedung.
setetes…dua tetes...tiga tetes. Gara melihat siswi tersebut berurai air mata, pandangannya mengabur.
“ mama baru meninggal pa, sekarang papa mau menikah dengan wanita ini?Papa tuh gak punya hati, tahu nggak! ”ucap wanita itu sambil menahan tangisannya.
PLAKK.. satu tamparan mendarat di pipi gadis itu.
“ kamu itu bukan anak papa din, mama kamu itu selingkuh dan anaknya itu kamu. Kamu seharusnya lebih tahu diri, kamu itu cuman anak  yang tidak diinginkan dan papa pungut dari mama kamu”
Wanita itu tak dapat membendung lagi tangisannya, hatinya serasa ditusuk berkali-kali tidak menyangka ayahnya berkata demikian. Ia pun berlari menuju  keluar rumah.
AARRGHH….
Gara merasakan kepalanya sangat pusing dadanya terasa terhimpit, seperti pisau yang menghujam dadanya berkali-kali. Itu merupakan kesedihan terdalam dari Dina, nama yang baru Gara ketahui dari sekelebat kisah menyedihkan tadi. Gara dapat merasakan kesedihan wanita yang masih berusaha ia selamatkan ini, mencoba menariknya dengan sekuat tenaga dengan rasa sakit yang menyiksa dan masih ia tahan. Ini yang gara tidak sukai dari dirinya sendiri ia merasa telah mendapat kutukkan, Gara dapat merasakan kesedihan orang yang sangat mendalam jika ia telah melihat air mata yang mengalir dari seseorang dan menyentuh orang tersebut. Tapi entah kenapa setiap ia melihat kesedihan terdalam dari seseorang dirinya akan merasa kesakitan seperti dia yang mengalami kejadian menyedihkan tersebut. satu hal lagi, Gara juga sangat tidak suka yang namanya menangis, ia rasa jika menangis hanya akan membuat dirinya terlihat lemah dan Gara bukanlah manusia lemah,  jadi ia tidak akan mudah menangis begitu saja. Namun mengapa hidupnya harus selalu berhubungan dengan kesedihan?
Rafa sampai di Lantai atas, dengan sigap segera menolong Gara yang masih kesulitan menarik Dina ke atas. Dengan bantuan dari Rafa mereka berhasil menyelamatkan Dina dengan susah payah. Mereka bertiga masih saling berhadapan sambil menyeka keringat masing-masing kecuali Dina yang hanya menatap mereka dengan senyum kecut,
“Apa peduli kalian sama aku, sampai berusaha menyelamatkanku dengan bersusah payah?” Ucap Dina ketus.
“ Gue tau yang lo rasain, gue paham, jadi gue kasih saran lo jangan sia-sia in hidup lo ” Ucap Gara yang masih setia menahan sakitnya sambil memegang dadanya.
“ Benarkah? Tapi gue gak percaya!”
 Dina tersenyum meremehkan, kemudian dengan gerakan cepat berlari menuju tepi, dan kembali menjatuhkan diri. Ia tergeletak dibawah dengan tubuh yang bersimbah darah. Tidak ada yang menyangkanya berbuat demikian semua orang panik dan terkejut.  
********
 yang suka ceritanya, nantikan kelanjutannya yaa.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar