Hai guys, setelah direvisi novel Argara pindah rumah nih dari wattpad jadi ke blog. penasaran ceritanya? jangan dibaca deh! hehe
********
"PROLOG"
Kalian tahu negara Indonesia di tahun
2018? , di tahun tersebut Indonesia menjadi
tuan rumah ajang olahraga terpopuler
“ASEAN GAMES” dengan meraih
31 emas, 24 perak dan 43 perunggu yang diadakan di Jakarta-palembang. Di
masa itu para atlet dari setiap negara saling berkompetisi secara sehat demi mengharumkan nama negara
masing-masing di masa itu mereka hidup
damai dan tentram. Para pemimpin dunia di pilih menggunakan sistem pemilu
dengan melibatkan aspirasi masyarakatnya , mencoba membangun masing-masing
negaranya menjadi negara yang unggul di banding negara lain.
Argara tersenyum kecut membaca kutipan
sejarah dalam buku yang tengah dibacanya, jika dia bisa memilih, ia akan
memilih hidup di masa itu saja dan
mungkin ia dapat menjadi atlet catur dimasa itu dengan memenangkan medali emas.
“
And welcome to 3097’s , dimana semua negara saling bersitegang dalam suasana
perang yang terus-menerus demi menunjukan
negara yang paling layak berkuasa di dunia. ” Argara menghela napas
panjang sambil berbicara ketus, membuat teman di sebelahnya mendelik kearahnya.
Mereka sedang berada di perpustakaan sekolah Argara “Flash High School ”.
“
Lo kenapa sih Gar? Gak lagi menuju ambang ke-stress-an stadium akhir kan otak lo? ” Rafa mengernyit
heran melihat kondisi temannya yang mengenaskan itu.
“
Gue rasa hidup ini gak adil, ketika remaja seumuran kita dituntut mempersiapkan
diri menghadapi perang yang sewaktu-waktu dapat terjadi.” Gara duduk di depan
temannya sambil memakan permen karet yang selalu ia bawa di kantungnya.
“
Yaelah begitu aja dipikirin, kayak Doyok aja lo ngeluh mulu soal hidup”
Doyok
adalah seorang mbak-mbak penjaga
perpustakaan yang bernama asli “ Chaira
halisya” menurut Gara mukanya mirip Doyok yang merupakan pelawak di era 90 an ,
jadi saja Gara memanggilnya dengan nama itu dan seluruh murid jadi
mengikutinya.
Argara
dan Rafi memang sering berkunjung ke perpustakaan sekolah yang luas, bukan
untuk membaca buku seperti murid kutu buku yang biasa berkunjung ke perpustakaan,
mereka malah membuat rusuh di perpustakaan dengan suara obrolan mereka yang
sangat menganggu bahkan terkadang mereka naik ke atas meja dan membuat konser
dadakan di perpustakaan . Bagi Argara dan Rafi perpustakaan merupakan markas
mereka, dengan meja di pojok belakang perpustakaan yang tertutup rak besar, sehingga
menjadikannya tempat yang strategis untuk bersembunyi demi menghindari
pelajaran yang tidak diinginkan oleh otak mereka, walaupun mereka harus rela
bersusah payah dengan menyogok Doyok dengan foto Pak Gayong yang menurutnya
guru tertampan di FHS itu untuk membantu mereka.
“
Ada masalah apa lo sampe ngajak gue
bolos ke markas gini? Walaupun biasanya memang selau bolos sih ” Rafi lanjut bertanya setelah tanggapannya
tidak di respon oleh Gara yang sekarang tengah asyik membuat bubble dengan permen karetnya.
“
Gak, gue mau refreshing aja capek sama hidup gue.” Gara menjawab dengan tak
bersemangat sambil terus mengunyah permen karetnya.
“
Oh ya, gimana dengan kasus kakak lo? ”
Gara
mengeluarkan permen karetnya dari mulut dan meletakannya di bawah meja, Rafi
hanya memperhatikannya tak acuh karena telah terbiasa dengan kebiasaan Gara
yang satu itu.
“
Gue sih mau pindah ke sekolah kakak gue, biar gue lebih gampang nemuin bukti tentang siapa yang udah ngebunuh
kakak gue. Besok gue sekolah di THS.”
Gara mengucapkannya dengan nada datar
mencoba menyembunyikan emosi yang tersembunyi di hatinya.
“ TAKK” Kepala Gara terasa berdenyut merasakan
sakit dari pukulan tangan sahabatnya yang tiba-tiba berdiri dan memukul kepala
Gara. Sontak saja Gara meringis kesakitan.
“
Lo pindah gak bilang-bilang sama gue, aturan gue ikut pindah sama lo.” Rafi
memprotes ucapan Gara.
“
Tadi kan gue udah bilang ”
“
Yeu kang sedot WC, ini sih dadakan bilangnya”
“
Yaudahlah, gue bisa ngusut kasus ini sendiri. Lo sekolah aja yang bener disini,
lagipula gue gak mau ngerepotin orang lain”
“
Yah gue gak ada bebep buat nongkrong dan
bolos bareng dong.” Rafi merentangkan tangannya hendak memeluk Gara dengan
ekspresi yang ia buat se-imut mungkin.
“
Jijik, sono lo sama Doyok.” Gara menoyor kepala Rafi sambi beranjak dari
duduknya menuju keluar perpustakaan Rafi memberenggut kemudian mengikuti Argara
di belakangnya.
“
Jahat dih bebep mah.”
“
Ehh Gara, lo gak nempelin permen karet di bawah meja kan?” Gara hanya tersenyum
tak berdosa sambil terus meneruskan langakahnya yang sempat terhenti karena
Doyok yang menegurnya.
‘’
Gue santet lo ya kalo sampe ada permen karet nemplok dibawah meja ’’ doyok
mendengus kuat-kuat.
Saat
keluar dari perpustakaan Gara dan Rafi melihat murid-murid berlarian dengan
tergesa-gesa menuju lapangan, mereka bingung sekaligus penasaran, jadi mereka
mengikuti langkah para siswa yang tampak antusias. Mereka berkumpul bukan di
lapangan melainkan didepan “gedung 5” yaitu gedung olahraga yang mencapai 12
lantai. Gara melihat seorang siswi di sekolahnya yang tidak Gara kenal betul
tengah berdiri di tepi atap lantai Rooftop Gedung 5 tengah menundukan kepalanya
sambil menangis, seakan-akan ia membawa beban yang sangat berat di punggungnya.
Para siswa panik dan berteriak menyuruh siswi tersebut turun. Gara segera
berlari menuju Rooftop berharap dapat menghentikan siswa yang seperti berniat
mengakhiri hidupnya, ia tidak sempat mengenakan lift yang terdapat di sekolah
karena menurutnya itu membuatnya terlalu lama menunggu jadi ia menggunakan
tangga darurat.
“
Setinggi apa tingkat depresi lo, sampe mau bunuh diri begini? ” Gara terengah,
dengan tubuh yang dibasahi keringat. Kelelahan menaiki tangga hingga ke Lantai
12.
Siswi
tersebut tidak menggubrisnya, ia hanya menarik napas panjang dan merentangkan
tangannya sambil menjatuhkan diri. Gara dengan sigap menarik tangan siswi
tersebut sebelum meluncur ke bawah, ia berusaha sekuat mungkin menarik siswi
tersebut ke atas dengan susah payah. Para siswa lainnya berteriak takut di
bawah,
“
Lepasin, gue mau mati aja!.” Siswi tersebut terisak, sambil menggantung di
ketinggian gedung.
setetes…dua
tetes...tiga tetes. Gara melihat siswi tersebut berurai air mata, pandangannya
mengabur.
“ mama baru meninggal
pa, sekarang papa mau menikah dengan wanita ini?Papa tuh gak punya hati, tahu
nggak! ”ucap wanita itu sambil menahan tangisannya.
PLAKK.. satu tamparan
mendarat di pipi gadis itu.
“ kamu itu bukan anak
papa din, mama kamu itu selingkuh dan anaknya itu kamu. Kamu seharusnya lebih
tahu diri, kamu itu cuman anak yang
tidak diinginkan dan papa pungut dari mama kamu”
Wanita itu tak dapat
membendung lagi tangisannya, hatinya serasa ditusuk berkali-kali tidak
menyangka ayahnya berkata demikian. Ia pun berlari menuju keluar rumah.
AARRGHH….
Gara
merasakan kepalanya sangat pusing dadanya terasa terhimpit, seperti pisau yang
menghujam dadanya berkali-kali. Itu merupakan kesedihan terdalam dari Dina,
nama yang baru Gara ketahui dari sekelebat kisah menyedihkan tadi. Gara dapat
merasakan kesedihan wanita yang masih berusaha ia selamatkan ini, mencoba
menariknya dengan sekuat tenaga dengan rasa sakit yang menyiksa dan masih ia
tahan. Ini yang gara tidak sukai dari dirinya sendiri ia merasa telah mendapat
kutukkan, Gara dapat merasakan kesedihan orang yang sangat mendalam jika ia
telah melihat air mata yang mengalir dari seseorang dan menyentuh orang
tersebut. Tapi entah kenapa setiap ia melihat kesedihan terdalam dari seseorang
dirinya akan merasa kesakitan seperti dia yang mengalami kejadian menyedihkan
tersebut. satu hal lagi, Gara juga sangat tidak suka yang namanya menangis, ia
rasa jika menangis hanya akan membuat dirinya terlihat lemah dan Gara bukanlah
manusia lemah, jadi ia tidak akan mudah
menangis begitu saja. Namun mengapa hidupnya harus selalu berhubungan dengan
kesedihan?
Rafa
sampai di Lantai atas, dengan sigap segera menolong Gara yang masih kesulitan
menarik Dina ke atas. Dengan bantuan dari Rafa mereka berhasil menyelamatkan
Dina dengan susah payah. Mereka bertiga masih saling berhadapan sambil menyeka
keringat masing-masing kecuali Dina yang hanya menatap mereka dengan senyum
kecut,
“Apa
peduli kalian sama aku, sampai berusaha menyelamatkanku dengan bersusah payah?”
Ucap Dina ketus.
“
Gue tau yang lo rasain, gue paham, jadi gue kasih saran lo jangan sia-sia in
hidup lo ” Ucap Gara yang masih setia menahan sakitnya sambil memegang dadanya.
“
Benarkah? Tapi gue gak percaya!”
Dina tersenyum meremehkan, kemudian dengan
gerakan cepat berlari menuju tepi, dan kembali menjatuhkan diri. Ia tergeletak
dibawah dengan tubuh yang bersimbah darah. Tidak ada yang menyangkanya berbuat
demikian semua orang panik dan terkejut.
********
yang suka ceritanya, nantikan kelanjutannya yaa.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar