Hy guys! novel ARGARA berlanjut nih, yuk langsung aja.....
*******
PART 1 “Arvaro
Syahputra”
Minggu,
11 juli 3097
Di
dalam ruangan bernuansa hitam putih ini, Gara duduk di tepi tempat tidur sambil
menghirup aroma di sekitar ruangan yang selalu berhasil mengingatkannya pada
kakaknya atau lebih tepatnya saudara kembarnya yang sangat Gara sayangi “Arvaro
Syahputra”. Dia memang meminta kedua orang tuanya untuk tidak merubah
sedikitpun semua posisi barang di kamar kembarannya tersebut. selain untuk
mengenang Arvaro, dia juga ingin mencari
sebuah petunjuk mengenai kematian kembarannyanya itu.Varo ditemukan sudah tidak
bernyawa di gudang sekolahnya dengan kondisi leher tergantung atau lebih
tepatnya di gantung. Namun ketika polisi menyelidiki kasus Varo, Gara merasa polisi menutupi sesuatu mengenai kematian Varo karena polisi menutup kasus
begitu saja dengan menyatakan jika Varo mati dikarenakan bunuh diri. Saat itu
Gara tidak puas dengan hasil yang di berikan polisi dan ia sudah bertekad untuk
menyelidiki kasus kematian kakaknya
sendiri.
Rabu,
12 juli 3046
“
woii Gara kebo, cepet bangun lo dah siang nih. Lo gak mau sekolah ” Varo
berteriak di samping Gara yang tertidur
di kasurrnya sambil memukul Gara dengan sebuah guling.
“
berisik lo bacot, masih pagi kali” Gara bergerak membelakangi Varo sambil
kembali tertidur.
“
heh ini hari pertama kita sekolah di tingkat 2, kalo telat mati dah lo” Varo
bersikeras membangunkan saudaranya.
“
elo aja sono yang sekolah , murid teladan dilarang telat. Gue masih ngantuk ”
Gara masih berkelit tak mau bangun.
Varo
menghela napas, memang tantangan terberat dalam hidupnya adalah membangunkan
kembarannya yang seorang titisan kebo ini. Varo keluar dari kamar Gara dan
mencari ibunya untuk berpamitan berangkat sekolah. Varo sudah tak peduli lagi
pada Gara.
“
Mah liat speedboard Varo gak?? Mau berangkat sekolah nih udah telat.”
Varo kebingungan mencari benda berbentuk
skeatboard listrik tanpa roda miliknya yang biasa ia pakai terbang menuju
sekolahnya.
“
Loh kemaren di pake kan sama Gara? Nah itu yang di tempat sampah apa?” mamahnya
menjawab dari dapur sedang sibuk memasak.
Varo
mendekati tempat sampah di dapur dan terkejut melihat red speedboardnya yang
terbelah menjadi dua bagian.
“ARGARA!!
Awas lo ya pulang sekolah gua sambit” teriak Varo pada Gara yang entah Gara
dengar atau tidak.
“Mah,
Varo berangkat dulu. Selamat pagi ” ucapnya sambil tersenyum licik kearah kamar
Gara
“Selamat
pagi sayang, tumben ngucap selamat pagi”
Varo
hanya tersenyum dan menyalami mamahnya kemudian berlari keluar rumah sambil
membawa blue speedboard milik Gara. Varo
dan Gara bersekolah di sekolahan yang
berbeda di karenakan kebiasaan mereka yang selalu bertengkar jadi orang tua mereka memutuskan untuk
menempatkan mereka di sekolah yang berbeda.
Setelah
Varo pergi, Gara terlihat menuruni tangga dengan tergesa-gesa sambil kesulitan
mengenakkan jaketnya dengan rambut yang masih acak-acakan.
“
Gila udah telat banget, mah Gara berangkat ya ”
“iya
sayang, hati-hati.”
Gara
mencari blue speedboardnya yang tidak ada di tempatnya, hanya satu dalam
pikirannya.
“Varo
cunguk awas lo ya” Gara segera membuka e-phone yang tertanam di tangan kanannya
dan dengan terpaksa memesan “electax” semacam mobil terbang electric,
beroperasi dengan sendiri yang lemotnya minta ampun karena sangat patuh dengan
rambu lalu lintas.
Setelah electax datang Gara segera
memanipulasi program komputer electax agar dapat ia ambil alih kemudinya dengan
kecepatan tinggi.
******
Siang
hari atau satu jam sebelum pulang sekolah, Gara dengan bosan mengikuti
pelajaran. tangan kanan Gara terlihat tanda merah pertanda panggilan masuk.
Karena penasaran, Gara membuka lebar telapak tangan kanannya dan membuka
e-phone nya yang menampilkan hologram
berbentuk persegi panjang berisi sebuah panggilan dari Varo dan dia menerima
panggilan tersebut.
“ Ehh cunguk, kenapa lo
nelpon-nelpon” Gara masih kesal karena blue speedboardnya yang di ambil oleh
Varo.
“ Gar tolongin gue ,
ini gue ada di gudang belakang sekolah gue. Gue rasa ada yang gak beres di sini
tuh-”
“ Var lo kenapa, he
cunguk jangan buat gue khawatir ya…”. Gara
menutup e-phone nya dan segera berlari keluar dari kelasnya tanpa izin,
bergegas menuju sekolah Varo.
Di depan sekolah Varo, Gara harus mengikuti
prosedur untuk bisa masuk ke sekolah itu dengan memasukan datanya. namun
menurut Gara itu terlalu lama dia dengan segera mengutak-atik sebentar alat
pengenal di sekolah Varo tersebut dan dengan cepat ia bisa masuk, satu
kelebihan Varo adalah memanipulasi program bisa dibilang ia seorang hacker atau
mungkin itu merupakan salah satu dari bentuk kenakalannya. hanya blue speedboardnya yang ia temukan saat
memasuki sekolah Varo dan Gara tidak
menemukan Varo. Setelah berlari mencari gudang sekolah Varo yang terdapat di
bagian belakang sekolah tersebut, dia terkejut
menemukan Varo tergantung dengan tangan dan kaki yang lebam tanpa alas
kaki. Di sekelillingnya terdapat beberapa polisi yang telah sigap
mengidentifikasi mayat Varo. Gara
menatap mayat Varo beberapa saat dan menyentuh tangannya namun ia tak
mendapatkan sedikit kesedihan pun dalam diri kembarannya itu.
“
Cungukk Varo lo pinter banget sih, kenapa pas lo di bunuh lo gak nangis. Sok
gantle banget sih lo.”
“Var
bangun, lo gak lupa mau sambit gue kan.
Gue juga belom gebukkin lo karena bawa blue speedboard gue gitu aja ” Gara
menahan cairan yang memaksa keluar dari ujung matanya.
“
kan gue yang telat var kenapa lo yang
mati sih?” Gara menangis dalam diam melihat saudara kembarnya yang meninggal.
tubuhnya terkulai lemas bersandar pada dinding di belakangnya. Gara sangat
yakin jika Varo itu di BUNUH.
Gara
tersadar ingatannya di masa lalu itu hal yang menurutnya sangat menyedihkan.
saudara kembar cungukknya sudah setahun ini pergi Gara juga menyesali jika saja dahulu ia di
sekolah yang sama dengan Varo, dia akan melindungi kembarannya itu dan mungkin
saja sekarang Varo masih hidup. Di saat
seperti itulah mamahnya pun, mama Rosa berada
pada kondisi terlemahnya, ia merasa sangat kehilangan yang membuatnya sakit
berminggu-minggu.
“
PRANKKK…” seketika jendela kamar Varo pecah, Gara terkejut dan segera melihat
ke luar jendela tetapi tidak ada siapa-siapa.
“Duh
kacanya pecah, kalo dikiranya gue yang mecahin gimana? Alamat kena omelan ini
sih.” Gara miris melihat serpihan kaca yang berserakan, ia berniat
membereskannya. Namun, ia menemukan batu yang dilapisi selembar kertas.
“Gara!
Apa yang kamu lakukan? Kenapa rebut sekali?” mama Gara datang dengan tergesa
menuju kamar Varo, sedikit terhenyak teringat kembaran Argara itu.
“
ehmm… itu mah, anu kacanya pecah, tapi bukan sama Gara kok, Sumpah!” Gara
berkata jujur sambil menyembunyikan batu itu dibelakangnya.
“
Apanya yang pecah?”
“
Itu ma, eh…”Gara terkejut melihat kaca itu baik-baik saja, seperti tak terjadi
apa-apa. Mulus bahkan lebih bersih dari sebelumnya.
“
Sudah sekarang kamu tidur, sudah malam.”
“Siap
Jendral, hehe.”
Mama
Rosa keluar dari kamar, Gara dengan segera melihat kertas pada batu yang masih
ia genggam.
“ Sebagian orang tak
berperasaan hingga diam” Tulisan dengan tinta coklat itu
tak Gara ketahui maksudnya.
“
Apa maksudnya ini? Dan bagaimana bisa kacanya tetap utuh?” Argara bergumam.
*******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar