Senin, 04 Maret 2019

Novel seru dan menarik *ARGARA*


Hy guys! novel ARGARA  berlanjut  nih, yuk langsung aja.....

*******

PART 1 “Arvaro Syahputra”

Minggu, 11 juli 3097
Di dalam ruangan bernuansa hitam putih ini, Gara duduk di tepi tempat tidur sambil menghirup aroma di sekitar ruangan yang selalu berhasil mengingatkannya pada kakaknya atau lebih tepatnya saudara kembarnya yang sangat Gara sayangi “Arvaro Syahputra”. Dia memang meminta kedua orang tuanya untuk tidak merubah sedikitpun semua posisi barang di kamar kembarannya tersebut. selain untuk mengenang Arvaro,  dia juga ingin mencari sebuah petunjuk mengenai kematian kembarannyanya itu.Varo ditemukan sudah tidak bernyawa di gudang sekolahnya dengan kondisi leher tergantung atau lebih tepatnya di gantung. Namun ketika polisi menyelidiki kasus Varo, Gara  merasa polisi menutupi sesuatu mengenai  kematian Varo karena polisi menutup kasus begitu saja dengan menyatakan jika Varo mati dikarenakan bunuh diri. Saat itu Gara tidak puas dengan hasil yang di berikan polisi dan ia sudah bertekad untuk menyelidiki kasus  kematian kakaknya sendiri.

Rabu, 12 juli 3046
“ woii Gara kebo, cepet bangun lo dah siang nih. Lo gak mau sekolah ” Varo berteriak di samping  Gara yang tertidur di kasurrnya sambil memukul Gara dengan sebuah guling.
“ berisik lo bacot, masih pagi kali” Gara bergerak membelakangi Varo sambil kembali tertidur.
“ heh ini hari pertama kita sekolah di tingkat 2, kalo telat mati dah lo” Varo bersikeras membangunkan saudaranya.
“ elo aja sono yang sekolah , murid teladan dilarang telat. Gue masih ngantuk ” Gara masih berkelit tak mau bangun.
Varo menghela napas, memang tantangan terberat dalam hidupnya adalah membangunkan kembarannya yang seorang titisan kebo ini. Varo keluar dari kamar Gara dan mencari ibunya untuk berpamitan berangkat sekolah. Varo sudah tak peduli lagi pada Gara.
“ Mah liat speedboard Varo gak?? Mau berangkat sekolah nih udah telat.”
 Varo kebingungan mencari benda berbentuk skeatboard listrik tanpa roda miliknya yang biasa ia pakai terbang menuju sekolahnya. 
“ Loh kemaren di pake kan sama Gara? Nah itu yang di tempat sampah apa?” mamahnya menjawab dari dapur sedang sibuk memasak.
Varo mendekati tempat sampah di dapur dan terkejut melihat red speedboardnya yang terbelah menjadi dua bagian.
“ARGARA!! Awas lo ya pulang sekolah gua sambit” teriak Varo pada Gara yang entah Gara dengar atau tidak.
“Mah, Varo berangkat dulu. Selamat pagi ” ucapnya sambil tersenyum licik kearah kamar Gara
“Selamat pagi sayang, tumben ngucap selamat pagi”
Varo hanya tersenyum dan menyalami mamahnya kemudian berlari keluar rumah sambil membawa blue speedboard  milik Gara. Varo dan Gara  bersekolah di sekolahan yang berbeda di karenakan kebiasaan mereka yang selalu bertengkar  jadi orang tua mereka memutuskan untuk menempatkan mereka di sekolah yang berbeda.
Setelah Varo pergi, Gara terlihat menuruni tangga dengan tergesa-gesa sambil kesulitan mengenakkan jaketnya dengan rambut yang masih acak-acakan.
“ Gila udah telat banget, mah Gara berangkat ya ”
“iya sayang, hati-hati.”
Gara mencari blue speedboardnya yang tidak ada di tempatnya, hanya satu dalam pikirannya.
“Varo cunguk awas lo ya” Gara segera membuka e-phone yang tertanam di tangan kanannya dan dengan terpaksa memesan “electax” semacam mobil terbang electric, beroperasi dengan sendiri yang lemotnya minta ampun karena sangat patuh dengan rambu lalu lintas.
 Setelah electax datang Gara segera memanipulasi program komputer electax agar dapat ia ambil alih kemudinya dengan kecepatan tinggi. 
    ******
Siang hari atau satu jam sebelum pulang sekolah, Gara dengan bosan mengikuti pelajaran. tangan kanan Gara terlihat tanda merah pertanda panggilan masuk. Karena penasaran, Gara membuka lebar telapak tangan kanannya dan membuka e-phone nya yang  menampilkan hologram berbentuk persegi panjang berisi sebuah panggilan dari Varo dan dia menerima panggilan tersebut.
“ Ehh cunguk, kenapa lo nelpon-nelpon” Gara masih kesal karena blue speedboardnya yang di ambil oleh Varo.
“ Gar tolongin gue , ini gue ada di gudang belakang sekolah gue. Gue rasa ada yang gak beres di sini tuh-”
“ Var lo kenapa, he cunguk jangan buat gue khawatir ya…”. Gara  menutup e-phone nya dan segera berlari keluar dari kelasnya tanpa izin, bergegas menuju sekolah Varo.
 Di depan sekolah Varo, Gara harus mengikuti prosedur untuk bisa masuk ke sekolah itu dengan memasukan datanya. namun menurut Gara itu terlalu lama dia dengan segera mengutak-atik sebentar alat pengenal di sekolah Varo tersebut dan dengan cepat ia bisa masuk, satu kelebihan Varo adalah memanipulasi program bisa dibilang ia seorang hacker atau mungkin itu merupakan salah satu dari bentuk kenakalannya. hanya  blue speedboardnya yang ia temukan saat memasuki sekolah Varo  dan Gara tidak menemukan Varo. Setelah berlari mencari gudang sekolah Varo yang terdapat di bagian belakang sekolah tersebut, dia terkejut  menemukan Varo tergantung dengan tangan dan kaki yang lebam tanpa alas kaki. Di sekelillingnya terdapat beberapa polisi yang telah sigap mengidentifikasi mayat Varo.  Gara menatap mayat Varo beberapa saat dan menyentuh tangannya namun ia tak mendapatkan sedikit kesedihan pun dalam diri kembarannya itu.
“ Cungukk Varo lo pinter banget sih, kenapa pas lo di bunuh lo gak nangis. Sok gantle banget sih lo.”
“Var bangun,  lo gak lupa mau sambit gue kan. Gue juga belom gebukkin lo karena bawa blue speedboard gue gitu aja ” Gara menahan cairan yang memaksa keluar dari ujung matanya.
“ kan gue yang telat var  kenapa lo yang mati sih?” Gara menangis dalam diam melihat saudara kembarnya yang meninggal. tubuhnya terkulai lemas bersandar pada dinding di belakangnya. Gara sangat yakin jika Varo itu di BUNUH.
Gara tersadar ingatannya di masa lalu itu hal yang menurutnya sangat menyedihkan. saudara kembar cungukknya sudah setahun ini pergi  Gara juga menyesali jika saja dahulu ia di sekolah yang sama dengan Varo, dia akan melindungi kembarannya itu dan mungkin saja sekarang Varo masih hidup.  Di saat seperti itulah  mamahnya pun, mama Rosa berada pada kondisi terlemahnya, ia merasa sangat kehilangan yang membuatnya  sakit  berminggu-minggu.
“ PRANKKK…” seketika jendela kamar Varo pecah, Gara terkejut dan segera melihat ke luar jendela tetapi tidak ada siapa-siapa.
“Duh kacanya pecah, kalo dikiranya gue yang mecahin gimana? Alamat kena omelan ini sih.” Gara miris melihat serpihan kaca yang berserakan, ia berniat membereskannya. Namun, ia menemukan batu yang dilapisi selembar kertas.
“Gara! Apa yang kamu lakukan? Kenapa rebut sekali?” mama Gara datang dengan tergesa menuju kamar Varo, sedikit terhenyak teringat kembaran Argara itu.
“ ehmm… itu mah, anu kacanya pecah, tapi bukan sama Gara kok, Sumpah!” Gara berkata jujur sambil menyembunyikan batu itu dibelakangnya.
“ Apanya yang pecah?”
“ Itu ma, eh…”Gara terkejut melihat kaca itu baik-baik saja, seperti tak terjadi apa-apa. Mulus bahkan lebih bersih dari sebelumnya.
“ Sudah sekarang kamu tidur, sudah malam.”
“Siap Jendral, hehe.”
Mama Rosa keluar dari kamar, Gara dengan segera melihat kertas pada batu yang masih ia genggam.
“ Sebagian orang tak berperasaan hingga diam” Tulisan dengan tinta coklat itu tak Gara ketahui maksudnya.
“ Apa maksudnya ini? Dan bagaimana bisa kacanya tetap utuh?” Argara bergumam.

*******













Tidak ada komentar:

Posting Komentar