Kamis, 28 Februari 2019

Cerpen "Menggenggam Bintang"


Hai kawan? Saya kembali lagi menuju peradaban dengan  mengeluarkan cerpen nih, yuk langsung disimak yaa baik-baik!



Menggenggam Bintang

     Liburan akhir semester telah usai, Pagi hari langit Aceh begitu memanjakan sang indra penglihatan. Tania telah siap memulai semester dua di tahun terakhirnya sebagai murid kelas 12 IPA 3. Tania sangat bersemangat saking semangatnya ia bahkan datang ke kelasnya paling awal di pagi hari.
Hari pertama pelajaran belum di mulai, semuanya tampak santai. Wali kelas 12 IPA 3 yaitu Pak Yanto masuk ke kelas lalu memulai obrolan santai dengan para muridnya.
“ Bagaimana liburan kalian anak-anak? ” Tanya Pak Yanto kepada muridnya.
“ Seru pak, tapi kurang puas liburannya.” Jawab asal salah satu murid.
“ Seharusnya kalian itu lebih giat belajar, apa kalian tidak merasakan jika kalian di SMA itu hanya beberapa bulan lagi. Kalian dari sekarang harus mulai menentukan jurusan dan PTN mana yang akan kalian pilih untuk kedepannya. Coba bapak Tanya dan mendata kalian mengenai PTN yang akan kalian pilih dan apa yang kalian rencanakan kedepannya.”
Pak Yanto bertanya kepada muridnya satu-persatu akan rencana mereka kedepannya, mereka menjawabnya dengan antusias akan keinginan mereka melanjutkan kuliah. Tania menundukkan kepalanya dalam dengan alur muka yang sendu, ketika gilirannya di Tanya ia mengangkat kepalanya mantap dan dengan percaya diri menjawab.
“ Tania akan menjadi Dokter pofesional pak, Tania akan mengambil jurusan Kedokteran di UNPAD.”
Semua murid di kelas Tania tertawa meremehkan jawabannya, mereka mencemooh Tania.
“ Hahaha, udah anak orang miskin, gak pinter-pinter amat, tinggi amat bu menghayalnya? ” Terdengar jelas di telinga Tania salah satu cemoohan dari temannya itu.
“ Setidaknya Tania masih memiliki sopan santun dan sikap yang lebih baik daripada kalian anak orang kaya yang sombong dan tidak tau apa yang namanya budi pekerti yang baik.” Setelah berkata demikian Tania secara sopan meminta izin kepada  gurunya untuk ke kamar kecil. Di sekolahnya memang sangat terasa adanya sistem kasta antara si kaya dan si miskin, para murid secara lihai dapat menutupinya agar tidak diketahui para guru. Pak Yanto segera menegur teman-teman sekelas Tania setelah Tania secara terburu-buru pergi meninggalkan ruang kelasnya.
Di salah satu bilik kamar mandi Tania menahan tangisannya hingga hidungnya menjadi memerah, Tania mengusap hidungnya perlahan tidak ingin mengeluarkan air matanya. Apakah salah Tania memiliki mimpi walaupun ia dari keluarga yang miskin?, dan apa tidak boleh orang yang biasa-biasa saja memiliki sebuah mimpi?, bukankah mimpi itu boleh dimiliki oleh setiap orang? Itu yang Tania pikirkan saat berada di kamar mandi menyendiri. Setelah merasa lebih tenang Tania merapikan sedikit raut mukanya dan kembali ke kelas dan dia rasa Pak Yanto telah keluar dari kelasnya.
“ Beri hormat! Buk Dokter telah kembali dari kamar kecil.”
Tania terus berjalan tanpa mendengar celotehan dari teman-temannya menuju kursinya. Resky salah satu teman sekelasnya menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“ Boleh pinjam buku dan pulpen?” Ucap Resky kepada Tania secara baik-baik. Tania memberikan apa yang diminta oleh  Resky. Setelah beberapa saat menulis sesuatu di buku tulis Tania, Resky berterima kasih sambil tersenyum penuh arti dan beranjak dari samping Tania.
Dasar miskin
Bisa gak Jangan mimpi?
Menghayalnya kurang tinggi
Jangan mengharap yang gak pasti
Tania melihat tulisan tersebut dan segera merobek lembaran kertas yang di tulis kalimat besar-besar itu, ia sangat kesal sambil mencengkram erat sobekan kertas itu hingga buku tangannya memutih. Tania memang sudah sering mendapatkan cemoohan dari para murid orang kaya, namun ia tidak menghiraukannya dan akhir-akhir ini mereka semakin menjadi dalam membully para siswa yang hidupnya kekurangan. Gumpalan kertas yang berada di tangannya Tania ia lemparkan dan mengenai punggung Resky yang berjalan menjauh, sontak Resky segera berbalik kembali menghampiri Tania.
“Maaf, apa maksud anda melempar saya dengan kertas? Anda punya sopan santun? ” Ucap Resky pada Tania dengan tatapan tanya, nada suaranya yang sopan akan berkebalikan dengan tingkah lakunya.
Resky merupakan salah satu anak orang kaya, selain kaya ia juga merupakan murid pintar juara paralel tahun lalu. Resky juga mengikuti banyak organisasi di sekolah, ketika di hadapan guru dan anak orang kaya lainnya ia akan bersikap manis , namun jangan harap kepada golongan murid yang terbilang miskin, Resky tidak akan segan untuk bertindak di luar akal kepada mereka entah apa yang merasukinya sehingga Resky memiliki sifat yang seperti itu.
“ Jangan pura-pura baik deh, sebenarnya siapa yang tidak punya sopan santun? apa harus terus jaga image?” tantang Tania sambil menaikkan satu alisnya.
Resky tiba-tiba mengambil buku Tania yang tadi ia pinjam kemudian membasahinya dengan air minum Tania yang berada di atas meja. Resky melangkah keluar, Tania panik mengikutinya dari belakang, ternyata Resky memasukan buku Tania ke dalam tong sampah di depan kelas.
“ Itu buku tugas Tania,” Tania berkata lirih sambil menatap nasib buku tugasnya, Tania kemudian mengambil bukunya di dalam tong sampah dan segera pergi berlari menuju lantai atas sekolah. Di Rooftop sekolah tempat kesukaan Tania ini ia membuka bukunya yang basah lebar-lebar berharap bukunya akan kering dengan hembusan angin dan semoga hasil tugasnya tidak luntur.
“ Hai Tania,” Seseorang muncul dari belakang Tania dan menyapanya.
“ Hai Diana,” Jawab Tania sambil terus membolak-balikan buku tugasnya agar cepat kering dengan merata. Tania mengenal Diana karena ia adalah teman sekelasnya, nasib mereka sama yaitu sama-sama berasal dari keluarga yang tidak berada.
“ Aku suka sama mimpi kamu Tania.” Ucap Diana dengan tulus.
“ Terimakasih, andai saja ya kita bisa menegakkan keadilan di sekolah ini.”
“ Tapi kan,”
“ Iya Tania tahu, mereka itu donatur utama sekolah, peluang kita kecil kan buat menggapai mimpi kita .”
Mereka berdua tersenyum getir menatap langit yang mulai menurunkan titik-titik kecil air, seakan langit pun ikut menangis melihat kehidupan mereka. Mereka pun kembali ke kelas dengan tidak bersemangat, berharap semua ini hanya mimpi buruk dan esok hari kehidupan mereka akan berubah.
     ******
“Kenapa kamu nak?” Tanya ibu Tania khawatir karena melihat anaknya yang seakan kehilangan jiwa itu.
“ Tania gak akan pernah bisa kuliah ya bu? ” Tanya Tania menatap ibunya sendu.
Ibu Tania hanya memeluk hangat putri satu-satunya itu, tidak tahu harus berkata apa ia memang tak akan mampu membiayai putrinya untuk melanjutkan kuliah. Air mata yang sedari tadi Tania tahan dengan santainya meluncur hangat di pipi Tania, ia menangis dalam pelukan ibunya. Setelah beberapa saat, ibu Tania melonggarkan pelukannya lalu tangannya mengusap puncak kepala tania lembut. Terdengar suara dengkuran halus berasal dari Tania, napasnya teratur dan sepertinya Tania kelahan. Ibu tania menidurkan Tania di kursi sofa yang tadi ia dan tania duduki tidak tega untuk membangunkan putri kesayangannya itu.
“Maafkan ibu nak, Ibu akan berusaha lebih untuk menuntunmu menggapai mimpimu itu.”
Tania hanya tinggal berdua dengan ibunya yang seorang penjahit, ayahnya telah meninggal dunia ketika tania SMP.
*******
Mata Tania sedikit sembab akibat ia yang semalam menangis di pelukan ibunya. Ketika memasuki kelas hanya ada Diana yang terlihat sibuk mencatat sesuatu.
“ Hai Diana, apa yang kamu lakukan? ” Tanya Tania kebingungan.
“ Hai Tania, aku sedang berlatih mengerjakan soal untuk materi matematika hari ini. Kau tahu kan jika Pak Toyo terkadang memanggil salah satu murid secara mendadak untuk mengerjakan soal di depan kelas.” Diana menjawab lugas sambil terus melakukan kegiatannya itu.
Memang benar gurunya itu selalu memberikan latihan secara mendadak kepada salah satu muridnya sehingga muridnya benar-benar di tuntut memahami materi yang telah di ajarkan. Tania semalam tidak melakukan apa-apa selain melamun dan termenung, buku tugasnya pun untuk latihan menguji materi telah tidak berbentuk Karena kelakuan Resky kemarin. Semua tulisannya luntur dan bukunya kering seperti kerupuk karena terlalu lama dikeringkan oleh Tania. Hari ini rasanya dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya, masalahnya ketika pelajaran matematika Tania ditunjuk oleh Pak Toyo mengerjakan salah satu soal mengenai Trigonometri yang tidak ia mengerti sama sekali. Tania rasanya hanya ingin tenggelam saja ke dalam inti bumi karena ia sekarang hanya diam di depan kelas sambil memegang spidol untuk mengerjakan soal di papan tulis. Tania mulai berharap yang tak pasti, ia berharap spidol yang dipegangnya dapat mengerjakan soal matematika itu dengan sendirinya tanpa memerlukan adanya impuls yang dikirimkan menuju otak manusia untuk diproses dan dikirimkan kembali menjadi sebuah respon untuk mengerjakan soal tersebut.       
         Wajah Tania semakin pias karena seakan tidak ada yang peduli padanya, di  ujung iris matanya ia melihat Resky yang tersenyum meremehkan.
“ Bagaimana Tania? mengapa kamu hanya berdiri saja tidak mengerjakan soal tersebut?” Tanya Pak Toyo yang melihat tania yang hanya berdiri bak patung.
“ Maaf pak, Tania tidak bisa mengerjakan soal ini”
Beberapa murid di kelas Tania mentertawakannya, Pak Toyo hanya menggelengkan kepalanya tanda kecewa, Tania merunduk malu akan hal tersebut. Pak Toyo beralih menunjuk Resky untuk mengerjakan soal yang tidak Tania sentuh sama sekali, Resky mengerjakan soal tersebut dengan cekatan tidak heran jika Resky dapat mengerjakan soal tersebut dengan mudah dan Tania masih setia berdiri mematung di samping papan tulis.
“ Bagus Resky, jawaban kamu tepat silahkan kembali ke tempat. Dan kamu Tania kerjakan soal latihan halaman 13 kumpulkan besok. ” Pak Toyo memberikan interuksi terakhirnya karena bel istirahat telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Ketika murid yang lainnya pergi ke kantin untuk memenuhi kewajiban yang harus mereka laksanakan untuk tubuh mereka, Tania di kelas yang dikelilingi buku dan memaksa tangannya menari-nari di sebuah kertas untuk mengerjakan tugas yang tadi diberikan oleh Pak Toyo.
“ Percuma saja dikerjakan, gak bakal bisa.” Suara seseorang yang tidak ingin Tania tangkap oleh telinganya itu terdengar, Tania mencoba bersikap tak acuh pada hal tersebut.
         Semakin Tania mencoba mengerjakan soal matematika tersebut, semakin Tania merasa kepalanya akan pecah berkeping-keping. Tania membereskan secara asal bukunya karena ia ingin beristirahat sejenak, Tania hanya dapat mengerjakan satu soal dari sepuluh soal yang ada. Tania menelungkupkan wajahnya di atas meja sambil menutup matanya mencoba menenangkan otaknya yang terasa berdenyut.
      Murid-murid berhamburan keluar dari wilayah sekolah, Tania sedikit menyeret kakinya menuju perpustakaan dan berniat menyelesaikan tugas sekolahnya disana. Tidak disangka cukup banyak penghuni perpustakaan hari ini karena memang perpustakaan yang di buka lebih lama dari waktu belajar-mengajar di sekolah menjadi tempat bagi murid-murid yang belum berniat untuk pulang kerumah.
“ Satu soal lagi dan tugas Tania akan selesai.” Ucap tania sambil meregangkan otaot-otot tangannya yang terasa kaku setelah sekian lama menenggelamkan diri dengan soal matematika yang menjadi tugasnya.
  Tania bersiap kembali mengerjakan satu soalnya yang tersisa, tangannya sedari tadi tidak menggoreskan coretan apapun di kertas setelah sekian lama berpikir mencoba mencari jawaban untuk soalnya yang terakhir.
“ Perlu bantuan? ” Siswa yang sebaya dengan Tania duduk di hadapannya sambil tersenyum.
 Tania mendongak menatap sang empunya suara, Tania mengenalnya ia adalah Agis sang pemilik peringkat juara kedua umum paralel setelah Resky. Tania merasa beruntung  dikirimkan seorang Tim SAR saat ia mengalami bencana kesulitan mengerjakan tugas ini. Segera saja Tania bertanya soal dari tugas terakhirnya yang ia rasa sangat sulit, namun anehnya setelah diberikan penjelasan mengenai cara pengerjaan soal oleh Agis soal itu berubah menjadi soal yang sangat mudah memang pantas Agis menjadi peringkat kedua bahkan Tania berpendapat jika seharusnya Agis yang menjadi peringkat pertama karena bukan hanya otaknya yang cerdas namun juga Agis sangat baik.
“ Terimakasih.” Ucap Tania setelah selesai mengerjakan tugasnya kepada Agis.
“ Sama-sama” Jawab Agis dengan alur muka yang tenang.
“ Oke, Tania pulang duluan” Tania berniat beranjak dari tempat duduknya setelah mengucapkan terimakasih.
“ Tunggu Tania!, jadi seperti ini. Semua orang itu berhak bermimpi dan selanjutnya keputusan orang itulah yang menentukan apakah ia akan bangun dari tidurnya dan membuat mimpi itu jadi nyata atau ia hanya akan tetap tidur berharap mimpi indahnya akan tetap ada saat ia tertidur. ” Ucap Agis penuh arti dan kemudian Agis pergi keluar dari ruangan perpustakaan dan menghilang dari pandangan Tania.
Tania yang sempat terhenti gerakannya saat ia kembali dipanggil oleh Agis terdiam sekejap kemudian ia tarik kedua sudut bibirnya sehingga membentuk lengkungan yang manis. Tania pulang ke rumahnya dengan semangat dan senyuman yang tak hilang dari wajahnya.   
******
          Keesokan harinya Tania mengumpulkan tugasnya saat Pak Toyo masuk ke ruangan kelasnya untuk mengajar pelajaran matematika dan jawaban dari tugasnya ternyata benar semua, Tania sangat bahagia dan puas akan hasil dari kerja kerasnya dan bantuan dari Agis.
“Dapet hasil dari nyontek kan? ” Tanya Resky saat jam istirahat saat tania masih menyalin materi dari papan tulis ke bukunya Tania tidak peduli kepada Resky yang berada di sampingnya.
“ Jangan munafik deh, hasil kerja orang lain kok ngakunya punya sendiri.” Resky melanjutkan perkataannya setelah ia merasa tidak diperdulikan Tania.
Aliran air jeruk mengalir di atas meja Tania mengenai ujung bukunya setelah dengan cekatan Tania segera mengangkat bukunya itu ke atas. Tania kesal ini kedua kalinya buku Tania basah oleh Resky ia tidak bisa bersabar lagi.
“ Permisi Pak Resky!, saya mengerjakan tugas dengan usaha sendiri. Apa anda baru menyadari kalau saya itu adalah murid yang cerdas? Apa anda takut prestasi juara umum anda saya rebut? Mungkin saja kecerdasan saya jauh melampaui kecerdasan anda?.” Tania menjawab dengan percaya diri dengan menunjukan tatapannya yang seperti menantang Resky, tangannya ia simpan di pinggangnya sambil tertekuk. Wajahnya terangkat menantang.
“ Benarkah? Berani dibuktikan? Saya tantang kamu, kalo kamu benar-benar bisa rebut prestasi saya, saya tidak akan mengganggu kamu lagi dan melarang teman saya mencemooh kamu.” Tantang Resky kepada Tania dengan sungguh-sungguh, setelah itu ia pergi meninggalkan Tania yang masih  berdiri tegak di tempat duduknya.
“ Oke, siapa takut saya terima tantangan kamu. Kita bersaing!”
        Tania beranjak dari tempatnya ia melangkahkan kakinya menuju Rooftop sekolah, mencoba menenangkan diri setidaknya di sana sepi dan damai. Sesampainya Tania di Rooftop sekolah ia membaringkan tubuhnya, tidak peduli seragamnya yang menjadi kotor akan hal tersebut. Tania memejamkan matanya perlahan mencoba mencari ketenangan jiwa, saat Tania membuka matanya ia melihat sesosok siluet dan sontak saja membuat Tania terduduk tegak. Ternyata orang itu adalah Agis. Sejak kapan Agis disini? Entahlah. Mereka duduk secara berdampingan tanpa berkata membiarkan angin yang menyapa mereka dengan suara halusnya memberikan ketenangan yang membelai lembut kulit mereka. 
“ Ada masalah? ” Tanya Agis terlebih dahulu memecah keheningan yang sedari tadi membelenggu mereka.
“ Aku terlalu nekat karena menerima tantangan dari Resky untuk merebut gelar prestasinya. padahal aku sadar diri gak akan bisa seperti itu, mungkin nanti orang yang mencemoohku akan semakin banyak.” Tania mengeluh sambil menatap langit menceritakan masalah yang memenuhi hatinya.
“ Saya yakin jika bersungguh-sungguh dalam melakukan suatu hal pasti akan berhasil, bel masuk sudah berbunyi saya izin ke kelas duluan. Kalau kamu butuh bantuan silahkan temui saya.” Ucap Agis beranjak dari duduknya menuju ke kelas.
       Setelah kepergian Agis, Tania menghirup udara sebanyak-banyaknya seakan berniat memenuhi paru-parunya dengan kapasitas yang maksimal lalu menghembuskannya kasar. Tania berdiri dan membersihkan sedikit roknya, kemudian berjalan menuju kelasnya.
                                                                    ******
“Sedang apa kamu nak?” Tanya Ibu Tanti ibunya Tania.
“ Tania sedang belajar untuk pelajaran esok hari bu.” Jawab Tania sopan sambil tangannya terus menari-nari di sebuah buku lusuh di hadapannya.
“ Ibu yakin, kalau kamu bersungguh-sungguh melakukan suatu hal pasti akan berhasil. Terus berjuang ya nak ibu selalu mendoakanmu.”
Apa ini? Tania merasa déjà vu, perkataan ibunya mirip seperti perkataan Agis padanya ketika berada di Rooftop. Ternyata masih banyak orang yang peduli kepada Tania, Tania berjanji kepada dirinya sendiri untuk bersemangat belajar demi menggapai cita-cita.
“ Iya bu, terimakasih” Ucap Tania menjawab perkataan ibunya sambil tersenyum kemudian memeluk erat tubuh seorang bidadari yang selalu membuat perasaannya hangat.
Tania melanjutkan belajarnya dan ia merasa ada bara api yang telah menyulut semangatnya sehingga ia lebih giat belajar kedepannya.
******
Bagai berita buruk yang turun dari langit yang melukai bumi, Hari ini merupakan bencana bagi beberapa siswa karena hari ini mereka diharuskan mengikuti ujian bahasa inggris secara mendadak, ditambah lagi setelah itu mereka harus mengikuti ujian matematika dan biologi yang sebelumnya telah guru mereka beritahukan. Memang ironis rasanya bagi para murid kecuali Tania, mukanya tenang ia merasa yakin  akan jawaban pada ulangannya karena ia telah belajar secara rutin akan materi-materi yang tadi dijadikan materi ulangan. Seminggu kemudian hasil ulangan dibagikan, tercetak jelas seulas senyuman dari wajah Tania, Bagaimana tidak hasil ulangannya cukup memuaskan dengan skor bahasa inggris 83, matematika 82, dan biologi 85 . Ia merasa usahnya setiap malam rutin belajar tidak sia-sia, Tania berencana menunjukan ini pada ibunya dan membuat ibunya bangga.
Ketika Tania pulang dan hendak melewati gerbang sekolah dia dihadang oleh Resky.
“ Permisi anda menghalangi jalan, bisa tolong bergeser?” Ucap Tania kesal karena perjalanannya terganggu.
“ Tunjukkan hasil ulangan kamu! ” Ucap Resky memerintah kasar pada Tania.
Melihat Tania diam saja Resky merebut tas gadis tersebut dan mengeluarkan isinya paksa, semua barang di dalam tas Tania dikeluarkannya sehingga berserakan di tanah. Resky terkejut  melihat hasil ulangan Tania, dia tersenyum meremehkan karena tak percaya skor nilai yang di dapat Tania.
“ Nyontek dari siapa? ” Tanya Resky tanpa rasa bersalah menuduh Tania.
“ Kenapa? anda merasa di kalahkan oleh saya, dan ingat ya itu hasil kerja Tania sendiri. Sepertinya Tania akan memenangkan persaingannya.” Tania berkacak pinggang dengan percaya diri.
 “ Sepertinya penyakit anda yang berharap terlalu tinggi itu masih ada” Resky merobek-robek hasil ujian Tania menjadi potongan kecil sambil tersenyum mengejek.
Tania terkejut jantungnya terasa turun ke perut di tambah dengan Resky yang menunjukan nilai hasil ujiannya dengan skor bahasa inggris 100, matematika 98, dan biologi 100.  Resky tersenyum puas kemudian berlalu pergi. Tania memunguti sobekan kertas nilai hasil ulangannya itu dan memungutinya.
“ Waw, itu jumlah penduduk di Indonesia apa nilai hasil ulangan? Banyak amat angkanya. Tapi Tania kesal, harus banget ya dia robek-robek kertas hasil ulangan Tania? tuh kan
jangan-jangan sekarang Tania gila karena ngomong sendiri.”
“ Iya, sepertinya kamu gila.” Agis yang secara tiba-tiba muncul dan membantu membereskan barang-barang Tania yang berserakan.
“ Terimakasih” Ucap Tania tulus.
“ Sama-sama, kalo masih perlu bantuan yang lain dengan senang hati saya akan membantu,” Agis tersenyum menatap Tania.
“ Iya tidak perlu repot-repot, ehm… ada sih satu hal yang Tania butuh buat ditolong.” Tania berkata yang dengan itu Agis dibuatnya penasaran.
Sekarang ini Tania dan Agis berada di salah satu meja di perpustakaan, mereka tengah menyusun potongan- potongan kertas kecil hasil ulangan tania dan menyusunnya agar utuh menggunakan lem.
“ Sepertinya ini salah satu bagian dari hasi ulangan bahasa inggris kamu.” Ucap Agis kurang yakin.
“ Ah ya itu bagian tepi atas hasil ulangan bahasa inggris Tania, terimakasih sudah menolong Tania dan maaf jadi merepotkan. Tania ingin menunjukan hasil ulangan Tania pada Ibu agar dia bangga akan usaha Tania, tidak mungkin kan Tania memberikannya dalam bentuk potongan kertas?” Tania tersenyum getir meratapi nasibnya yang memang segini mengenaskannya.
“ Tidak, saya senang membantu kamu. Boleh saya bertanya beberapa hal? ” Agis berkata sambil terus fokus menyusun potongan kertas.
“ Apakah kamu sering dibully seperti itu oleh Resky? ” Agis bertanya sepelan mungkin agar tidak menyinggung perasaan Tania dan juga disini adalah perpustakaan dilarang untuk berbicara kuat-kuat.  Tania hanya mengangguk lemah sambil tertunduk kegiatannya menyusun potongan kertas terhenti sejenak.
 “ Maaf ya jika saya menyinggung perasaan kamu.” Agis merasa bersalah telah bertanya seperti itu.
“ Tidak apa” Tania tersenyum dan melanjutkan kegiatannya.
“ Memang apa yang akan terjadi kalo misalkan kamu tidak bisa merebut posisi Resky sebagai juara paralel?.” Agis kembali bertanya demi mengurangi kekhawatirannya akan apa yang terjadi pada Tania jika ia tidak bisa memenangkan persaingannya dengan Resky.
“ Entahlah Tania tidak tahu, Tania juga tidak terlalu yakin akan kemampuan Tania.” Tania tersenyum miris menjawab pertanyaan dari Agis.
“ Saya yakin jika kamu melakukannya dengan sepenuh hati, pasti bisa terwujud. Jangan menyerah sebelum perang dimulai.” Agis tersenyum hangat dan membuat perasaan Tania lebih  tenang.
Setelah selesai menyusun semua potongan kertas dan merekatkannya dengan lem, Agis dan Tania pulang ke rumahnya masing-masing. Tak terasa langit mulai sore memang kegiatan menyusun kertas seperti itu memakan banyak waktu, Tania hingga berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada Agis yang telah membantunya.
******
Tania mendekati ibunya dengan kertas yang penuh lem ditangannya yang tengah menjahit tas Tania di ruang keluarga. Tania duduk di sebelah ibunya yang tengah serius itu, ibunya menyadari kehadiran Tania dan menghentikan kegiatannya sejenak.
“ Ada apa nak?” Tanya ibu tania kepada anaknya.
“ Bu, hasil ulangan Tania minggu lalu telah dibagikan. Ibu mau meihatnya?” Tania menyodorkan kertas hasil ulangannya. Kening ibunya Tania berkerut keheranan melihat kertas ujian Tania yang penuh dengan tempelan lem.
“ Kenapa kertas ujianmu seperti ini nak?”
“ Oh itu, ehm… tadi Tania kesal sama anak kelas ada yang tidak piket jadi Tania gak sengaja deh ngerobek kertas hasil ujian Tania hehe..” Menurut Tania itu adalah alasan yang bodoh mana mungkin ada yang percaya jika alasannya seperti itu. Tania merutuki dirinya sendiri ia terdiam wajahnya terlihat gusar.
“ Ibu bangga padamu nak, kamu harus lebih giat lagi belajar ya agar mimpimu terwujud.” Ibu
Tania mengusap lembut kepala anaknya dan mengecup dahi anaknya penuh sayang.
“ Iya bu, Tania akan beajar ebih giat lagi.” Tania tersenyum, hatinya menghangat merasakan kasih sayang seorang ibu.
******
   Semakin hari Tania semakin giat dalam belajar, nilainya pun dalam semua pelajaran meningkat drastis dan terkadang skor nilai Tania menyamai skor nilai dari Resky. Tania dan semua anak kelas 12 telah menyelesaikan kewajiban mereka yaitu ujian, mereka telah mengikuti ujian prektek, ujian sekolah, ujian sekolah, ujian sekolah  dan Ujian Nasional, mereka juga telah mendaftar ke masing-masing universitas impian mereka. Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu mereka akan mendapatkan pengumuman dari kepala sekolah, semua kelas 12 berkumpul di ruangan Aula sekolah.
“ Selamat bagi kalian semua anak kelas 12 di angkatan ke-37 ini, kalian telah melewati segala rintangan dan tantangan yang harus kalian lewati. Selama 3 tahun kalian belajar disini, berbulan-bulan kalian mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dan berminggu-minggu  ujian telah kalian lewati dengan sukses, saya yakin akan bertemu kalian di kemudian hari dengan kalian masing-masing yang telah menggapai mimpi. Mengapa saya berkata demikian?, karena hari ini pada tanggal 26 Desember 2004 angkatan  ke-37 SMAN GARUDA saya nyatakan lulus 100%  ” Ucap kepala sekoah secara lugas.
  Semua murid bersorak gembira karena mereka merasa puas, usaha mereka tidak sia-sia untuk menggapai masa depan. Tania merasa tanah yang dipijakinya sedikit bergetar ia melihat sekeliling sepertinya semua orang tidak terlalu terpengaruh akan getaran kecil yang ditimbulkan bumi, dia melihat Agis yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan wajahnya terlihat tegang. Tania menggerakan bibir memberi isyarat kepada Agis dan bertanya ‘kenapa?’, namun Agis hanya menjawabnya dengan menggeleng dan tersenyum dipaksakan.
“ Sekarang saya akan mengumumkan kepada kalian murid-murid yang berprestasi dan yang berhasil diterima di universitas impian mereka. Saya mulai, yang menjadi juara pertama paralel dan ia di terima di jurusan kedokteran UI yaitu Resky Arka Syahputra dari kelas 12 IPA 3. ” Semua murid di Aula bertepuk tangan kecuali Tania. Ia memberenggut sedih karena nyatanya ia tidak bisa merebut juara paralel dari Resky, entah apa yang akan Resky lakukan pada Tania setelah ini. Resky melangkah maju ke sebelah kepala sekolah ia langsung di sambut hangat oleh para guru dan kepala sekolah.
“ Peringkat kedua paralel dan diterimanya ia di jurusan tekhnik Infomatika di UI juga, dia adalah Agis Argasagara dari kelas 12 IPA 1.” Agis melangkah kedepan ia menatap Tania dan tersenyum tenang berbeda dengan tadi dan Tania pun membalas senyuman itu.
“ Selanjutnya peringkat ketiga paralel dan ia diterima di jurusan Kedokteran UNPAD, yaitu Tania Fiatul Zahra dari kelas 12 IPA 3”
 Tania tercengang, ia tak menyangka jika ia akan mendapat peringkat ke tiga paralel. Ia merasa dirinya di tarik ke dunia mimpi ataukah mimpinya yang menjadi nyata?. Tania melangkah perlahan banyak dari teman-teman sebayanya yang juga tak percaya, ia melihat ke arah Agis dan tersenyum bahagia. Agis membalas tersenyum dan ia tek menyangka jika Resky tengah tersenyum kepadanya dengan tulus bukan senyum meremehkan yang biasa ia tunjukkan pada Tania, Tania bertanya dalam hati dan ia berpendapat jika mungkin Resky sedang sakit hingga ia tersenyum hangat seperti itu.
Sedetik setelah Tania mendapatkan berkas-berkas prestasi dan juga hadiahnya tepatnya pukul 07.58, tanah yang Tania pijak bergetar hebat. Foto-foto dan lukisan yang menempel di dinding berjatuhan, Tania sulit mengendalikan keseimbangan tubuhnya dan ia terjatuh dengan susah payah tania kembali berdiri. Secara tiba-tiba terulur sebuah tangan yang segera menarik tania menuju ke luar ruangan menuju lapangan luas dan setelah dilihat secara teliti ternyata Resky yang tadi berusaha menolong Tania keluar bersamanya, Tania merasa matanya masih normal dan ia yakin itu adalah Resky, penyakit apa sebenarnya yang dialami Resky sekarang sehingga sikapnya berubah drastis.     
“ Terimakasih” Ucap Tania tulus, namun tidak di gubris oleh Resky yang tengah fokus menatap langit.
Tania mendengus kuat dan sesaat kemudian terlihat Agis yang menghampiri mereka dengan wajahnya yang tegang.
“ Gempa tadi saya perkirakan sebesar sebesar 9,1 SR. Saya harap kamu segera pulang dan membereskan barang-barang penting, carilah tempat tinggi yang aman.” Ucap Agis tergesa-gesa kepada Tania.
“ Kenapa?” Tanya Tania heran, dan ia baru menyadari jika Resky sudah tidak  berada di sebelahnya lagi. Agis melihat Tania yang masih memegang berkas-berkas prestasinya erat.
“ Cukup ikuti perintah saya dan kamu akan selamat. Oh ya, masukan berkas kamu kedalam  tas ini didalamnya juga terdapat berkas-berkas prestasi saya, saya titip itu.” Agis memberikan tas plastik dengan model yang bagus dan praktis segera saja Tania memasukan berkasnya dan memegang erat tas tersebut. Agis mengikat kencang tas tersebut pada pergelangan tangan Tania, simpul yang kuat namun tidak menyakiti dan setelah itu Agis segera pergi.
Tania berjalan pelan menuju rumahnya, masih kebingungan dengan perkataan Agis padanya. Rumah Tania melewati pantai di Aceh, ia melihat beberapa orang tengah memunguti ikan-ikan yang terdampar di tepi Pantai secara tiba-tiba. Tania berhenti sejenak untuk melihat kegiatan beberapa warga tersebut, ia duduk di kursi tepi pantai sambil terus memegang erat tas yang di berikan oleh Agis. Dia merasakan sedikit ngilu di kaki kirinya dan setelah dilihat ternyata kakinya membiru mungkin saja karena Tania yang tadi terjatuh saat gempa. Tania memperhatikan air laut yang semakin menyurut, namun orang-orang tetap asyik memunguti ikan di tepi Pantai. Di kejauhan Tania melihat sebuah gulungan ombak, namun rasanya bukan tania lebih menyipitkan matanya. Itu bukanlah Ombak biasa karena ombak itu berubah menjadi gunungan air yang kian membesar menuju daratan, Tania segera tersadar dan ia berteriak.
“ Bapak, Ibu ada tsunami cepat selamatkan diri kalian!.” Tania segera menjauhi pantai berlari secepat mungkin menuju rumahnya, namun langkahnya tersendat karena rasa sakit di kaki kirinya, orang-orang yang tersadar segera menyusul berlarian seperti dirinya.
Setelah mendekati rumahnya Tania melihat ibunya yang berdiri di depan rumah, segera saja Tania menarik lengan ibunya untuk berlari tanpa memperdulikan rasa sakit di kakinya yang ia rasa membengkak.
“ Ibu ayo bu, kita harus berlari ke dataran tinggi ada tsunami datang.” Tania menarik tangan ibunya sambil terus berlari tanpa mengurangi kecepatan  yang justru semakin mempercepatnya, napas Tania terengah-engah sambil sesekali ia terjatuh tersandung beberapa barang hingga menambah luka di kakinya. Tania terus memegangi erat tas yang dibawanya, Ibu Tania selalu membantu Tania untuk kembali bangkit berdiri dan berlari. Namun apa daya, terjangan tsunami lebih cepat dari kecepatan mereka berlari. Tubuh Tania dan ibunya terhempas air tsunami mereka terpisahkan. Tania mencoba berenang sekuat Tenaga meraih permukaan, kakinya terasa sangat perih dan nyeri, ia masih terapung terseret air. Setelah sampai di permukaan Tania terbatuk-batuk meraih bongkahan kayu yang terapung di depannya, ia mengambil oksigen sebanyak mungkin guna memenuhi paru-parunya. Tania sangat sedih karena terpisah dari ibunya, ia menatap tasnya yang senantiasa masih melekat di pergelangan tangannya. Tania berpikir apakah Agis itu seorang cenayang atau apa dia seperti sudah memprediksi segalanya bahkan agar berkas prestasi Tania tidak basah ia memberikan sebuah tas plastik, jika saja ia  mengikuti semua arahan agis tadi mungkin ia tidak akan seperti ini.
“ Tolong! tolong Tania! Tania mohon.”  Tania berteriak dengan sedikit tenaga yang masih ia miliki, namun tidak ada yang menjawabnya. Tania melihat mayat terapung melewati Tania, Tania tidak bisa menahan tangisannya.
“ Ibu tolong Tania bu, Tania takut, tolong bu tolong. ” Tania berucap lirih ia menangis sambil memeluk tas plastik yang ia bawa.
  Tolong Tania bu!.”  Tak lama kemudian tania mendengar suara gemeretak yang berasal dari bangunan tinggi di sebelahnya yang sepertinya akan runtuh, dengan sisa tenaga yang ada Tania mencoba berenang menjauh sekuat tenaga dari bangunan itu. Tanpa di duga tubuh Tania dihantam keras puing bangunan tersebut tenggelam ke dasar air. Tania merasa seluruh tubuhnya sakit dan ketika ia hendak kembali berenang menuju permukaan, kaki kirinya tersangkut puing-puing bangunan. Tania menarik kakinya paksa, walaupun rasa sakit yang ia rasakan teramat sangat menyakitkan Tania terus menarik kakinya paksa. Tania telah mencoba mengangkat puing bangunan yang menyangkut kakinya namun tenaga Tania rasanya sudah habis, oksigen dalam paru-paru Tania pun telah terkuras napas tania tercekat. Apakah ini akhir hidup dari Tania? Tania rasa ia sudah tak sanggup bertahan lagi tubuhnya lemas, namun Tania sangat ingin menunjukan prestasi kepada ibunya dan mengatakan kalau tania selengkah lagi berhasil menggapai impiannya. Tania memeluk erat tas plastik yang di berikan Agis, oh ya biasanya jika Tania dalam kesulitan Agis akan menolongnya. Bolehkah sekarang Tania mengharapkan Agis untuk menolongnya?
“ Agis apakah Tania boleh meminta tolong untuk yang terakhir kalinya? Tolong Tania Agis, Tania mohon.” Tania berucap dalam hati dengan penuh pengharapan sambil tetep memeluk erat tas yang melekat padanya.
Mata tania menjadi buram, kepalanya berdenyut sakit mungkin ia mulai berhalusinasi karena ia merasa siluet seseorang mendekatinya.
“ Agis?” Ucap Tania tanpa suara, ia melihat Agis yang tengah tersenyum hangat ke arahnya.  
Tania membuka matanya perlahan dan ia tengah berbaring di atas puing bangunan yang terapung, tas itu masih senantiasa melekat di pergelangan tangannya.
“ Agis?” Tania memanggil pelan orang yang telah menolongnya.
“ Agis? Agis dimana? Tunjukan diri kamu. Jangan tinggalin Tania sendiri. Agis?” Tania semakin kencang meneriaki nama Agis, entah kenapa Tania kembali menangis dan Tania rasa sekarang ia menjadi gadis yang cengeng.
Setelah dua hari Tania Terapung dan bertahan hidup hanya dengan meminum air, Tania melihat perahu karet TIM SAR segera saja Tania meminta pertolongan dan ia di bawa ke rumah sakit.
Tania terbangun dari tidurnya kepalanya berdenyut kencang, kaki dan badannya terasa sakit semua. Mata Tania yang sembab terasa berat bagaimana tidak, Tania selama terapung selalu menangis dan meneriakkan nama Agis. Di samping Tania telah berada ibunya Tania dan Resky yang berdiri.
“ Ibu? Syukurlah ibu selamat.” Tania segera memeluk ibunya, pelukan yang hangat sehingga Tania merasa semua rasa sakitnya menghilang. Tania melonggarkan pelukannya perlahan dan menatap Resky bingung.
“ Resky? Syukurlah kamu juga selamat.” Ucap Tania tulus.
“ Ehmm, Tania aku mau minta maaf atas perlakuan aku selama ini ke kamu, kamu sudah berhasil membuktikan ke aku kalau kamu memang bisa meraih mimpi kamu.” Resky berucap dengan penuh penyesalan.
“ Tania udah maafin, lagi pula Tania gagal merebut posisi juara paralel dari kamu.”
“ Tapi kamu berhasil meraih peringkat ke-tiga.”
“ Ya itu semua berkat ibu dan juga Agis, oh ya Agis mana? Tania mau ngucapin terimakasih.”
Resky menunjukan sesuatu di handphone nya kepada Tania dan dia tertunduk lemah. Tania melihat sebuah berita di HP Resky yang berbunyi “ Seorang siswa ditemukan tewas di sekitar puing gedung tinggi.” Tania membacanya hingga selesai dan ternyata  Agis lah siswa tersebut sebulir air mata Tania menyeruak keluar tanpa bisa di tahan dan tempat ditemukannya mayat Agis ialah tempat dimana Tania diselamatkan. Tania segera mengusap air matanya dan tersenyum sambil bertanya,
“ Ibu ada tas Tania yang tadinya terikat di tangan Tania? ” Ibu Tania memberikan tasnya kepada Tania.
“ Ibu disini ada berkas prestasi Tania dan  Agis, Tania dapat juara 3 paralel bu dan Tania diterima di jurusan psikologi UNPAD. ” Tania tersenyum pada ibunya.
Ibu Tania terharu dan memeluk putrinya sambil mengusap kepalanya ia  berkata,
“ Ibu bangga sama kamu nak ”
“ Bu? Tania izin pergi duluan ya bu maaf. “ Tania tersenyum, Ibu Tania melonggarkan pelukannya dan tubuh Tania tidak tegak berdiri, setelah di cek Tania sudah tidak bernyawa lagi. Ibu Tania semakin memeluk erat putrinya.
“ Ibu bangga padamu nak, kamu berjuang dengan keras ibu sangat bangga.”                      
Ibu Tania menangis, menunjukan rasa perih hati kehilangan putrinya. Namun ia bangga, putrinya menutup mata dengan bintang yang tergenggam.
       


Gimana ceritanya? Tolong krisannya  kawan :)
 
  
  
      

16 komentar:

  1. Keren, realita banget. Semangat terus berkarya👏

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Keren ceritanya, mantaplah tingkatkan kay;)

    BalasHapus
  5. Cerita yang unik😉 tingkatkan💪

    BalasHapus
  6. Bagus, banyak pesannya yang bisa diterapkan dikehidupan sekarang. Bermimpi lah setinggi langit karna Allah akan membantu kita meraihnya. Berusaha tidak akan mengkhianati hasil kan. :) Terus berkarya ya :)

    BalasHapus